APA YANG HARUS KITA PELAJARI DAN APA YANG HARUS KITA AJARKAN (Che Guevara-1958)

Posted in ekopol, politics, social movement, culture on 20 Februari 2011 by mikelatuwael

Artikel ini ditulis pada minggu-minggu terakhir sebelum kemenangan, dipublikasikan pada tanggal 1 Januari 1959 di Patria, organ resmi Tentara Pemberontak di Propinsi las Villas


Di bulan Desember ini, bulan peringatan kedua pendaratan Granma, sangat bermanfaat untuk menilik kembali tahun-tahun perjuangan bersenjata dan pertempuran revolusioner kita selama ini. Gejolak pertama diberikan oleh kudeta Batista pada tanggal 10 Maret 1952, dan lonceng pertama bergema pada tanggal 26 Juli 1953, dengan penyerbuan tragis Moncada itu.

Jalanan ini masih panjang dan penuh dengan kesulitan serta kontradiksi. Pada rangkaian setiap proses revolusioner yang diarahkan secara tulus dan bila para pejuangnya sendiri tidak menghambatnya, selalu akan terjadi serangkaian interaksi berkesinambungan (resiprokal)  antara pimpinan dan massa revolusioner. Gerakan 26 Juli pun merasakan efek dari hukum sejarah ini. Masih terdapat jurang pemisah antara kelompok kaum muda yang antusias yang melakukan penyerbuan garnisun Moncada pada dini hari 26 Juli 1953, dan pemimpin-pemimpin Gerakan itu pada saat ini, bahkan sekalipun orang-orangnya adalah sama. Selama lima tahun perjuangan ini –termasuk dua peperangan terbuka—telah membentuk semangat revolusioner kita yang senantiasa berhadapan dengan kenyataan dan kearifan naluriah rakyat.

Sesungguhnyalah, kontak kita dengan massa petani telah mengajarkan pada kita adanya ketidakadilan nyata di dalam sistem hubungan pemilikan pertanian pada saat ini. Kaum tani telah meyakinkan kita demi adanya perubahan fundamental yang adil dalam sistem pemilikan tersebut. Mereka menyinari praktek kita sehari-hari dengan kapasitas pengorbanan-dirinya, keagungan, dan kesetiaan.

Namun kita juga mengajarkan sesuatu. Kita telah mengajarkan bagaimana menghilangkan semua ketakutan terhadap penindasan musuh. Kita telah mengajarkan bahwa senjata ditangan rakyat adalah lebih unggul dibanding tentara-tentara bayaran itu. Pendeknya, sebagaimana dinyatakan pepatah umum yang tak perlu diulang-ulang lagi : dalam persatuan ada kekuatan.

Dan para petani yang telah menyadari akan kekuatan dirinya mendesak gerakan, pelopor perjuangannya, untuk maju lebih berani menuntut, hingga menghasilkan undang-undang reformasi agraria Sierra Maestra no.3. [1] Pada saat ini, undang-undang tersebut merupakan kebanggan kita, lambang perjuangan kita, alasan kita untuk hadir sebagai sebuah organisasi revolusioner.

Namun ini bukanlah selalu pendekatan kita terhadap masalah-masalah sosial. Pengepungan benteng kita di Sierra, dimana kita tidak memiliki hubungan yang sungguh penting dengan massa rakyat, dimana sesekali kita mulai merasa lebih yakin kepada senjata kita daripada yakin kebenaran ide-ide kita.  Karena inilah, kita kemudian mengalami kepedihan pada tanggal 9 April, saat mana menandai perjuangan sosial dimana Alegria de Pio –satu-satunya kekalahan kitadalam lapangan pertempuran—telah gambarkan dalam perkembangan perjuangan bersenjata.

Dari Alegria de Pio kita dapat menarik pelajaran revolusioner agar tidak mengalami kegagalan lagi dalam pertempuran lainnya. Dari peristiwa 9 April itu, kita juga belajar bahwa strategi perjuangan massa mengikuti hukum-hukum yang tak bisa di belokkan atau dihindari. Pengalaman-pengalaman itu secara jelas memberi pelajaran kepada kita. Untuk kerja diantara massa petani –dimana kita telah mempersatukan mereka, tak peduli afiliasinya, dalam perjuangan demi tanah—saat ini saat ini kita menambahkannya dengan tuntutan kaum buruh yang mempersatukan masa proletar dibawah satu bendera perjuangan, Front Persatuan Buruh Nasional (FONU), dan satu tujuan taktis jangka pendek; pemogokan umum revolusioner.

Disini kita tidak menggunakan taktik-taktik demagogi dalam rangka memamerkan ketrampilan politik. Kita tidak mendalami perasaan massa atas dasar rasa keinginan tahu ilmiah semata; kita melakukannya karena menyambut panggilalan rakyat. Karena kita, sebagai pelopor pejuang buruh dan tani yang tak segan-segan mencucurkan darah kita di gunung-gunung  dan dataran negeri Kuba ini, bukan elemen yang terisolasi dari massa rakyat; kita adalah bagian amat dalam dari rakyat. Peran kepemimpinan kita jangan mengisolasi kita; malahan sudah seharusnyalah ia mewajibkan kita untuk selalu bersama massa.

Fakta, bahwa kita adalah gerakan dari semua kelas di Kuba, yang membuat kita juga memperjuangkan kaum profesional dan pengusaha kecil yang menginginkan hidup dibawah undang-undang yang lebih baik; kita juga berjuang demi kaum industrialis Kuba yang berusaha memberi sumbangan kepada bangsa dengan menciptakan pekerjaan ; berjuang untuk setiap orang baik yang ingin melihat Kuba bebas dari kepedihan sehari-hari dimasa menyakitkan sekarang ini.

Sekarang melebihi dari yang sudah-sudah, gerakan 26 Juli, berjuang untuk kepentingan yang paling tinggi dari bangsa Kuba, berperang, tanpa kecongkakan, namun juga tanpa ragu-ragu, demi kaum buruh dan tani, demi kaum profesional dan pengusaha kecil demi para industrialis nasional, demi demokrasi dan kebebasan, demi hak untuk menjadi anak bebas, dari rakyat bebas, demi kebutuhan hidup kita sehari-hari, menjadi tindakan pasti dari upaya kita sehari-hari.

Pada peringatan kedua ini, kita ubah rumusan semboyan kita. Kita tidak lagi “menjadi bebas atau menjadi martir”. Kita akan menjadi bebas –bebas melalui tindakan seluruh rakyat Kuba, yang sedang memutuskan rantai-rantai penindasan dengan darah dan pengorbanan dari putra-putrinya yang terbaik.

Desember 1958

Catatan:

[1] UU .no.3 Sierra Maestra dicanangkan oleh tentara pemberontak pada 10 Oktober 1958. Undang-undang ini menjamin pemilikan tanah kaum petani penggarap, penghuni ‘liar’, dan petani bagi hasil, yang masing-masing memperoleh pembagian kurang lebih dua Caballerias(67 Are). Undang-undang ini merupakan pendahuluan bagi reformasi agraria yang lebih menyeluruh yang dicanangkan oleh pemerintah revolusioner pada 17 Mei 1959.


Dia yang Mahir dalam Revolusi

Posted in politics, social movement, culture on 3 September 2010 by mikelatuwael

Hatinya terlalu teguh untuk berkompromi. Maka ia diburu polisi rahasia Belanda, Inggris, Amerika, dan Jepang di 11 negara demi cita-cita utama: kemerdekaan Indonesia.

Ia, Tan Malaka, orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia. Muhammad Yamin menjulukinya ”Bapak Republik Indonesia”. Soekarno menyebutnya ”seorang yang mahir dalam revolusi”. Tapi hidupnya berakhir tragis di ujung senapan tentara republik yang didirikannya.

Ia seorang yang telah melukis revolusi Indonesia dengan bergelora. Namanya Tan Malaka, atau Ibrahim Datuk Tan Malaka, dan kini mungkin dua-tiga generasi melupakan sosoknya yang lengkap ini: kaya gagasan filosofis, tapi juga lincah berorganisasi.

—————–

ORDE Baru telah melabur hitam peran sejarahnya. Tapi, harus diakui, di mata sebagian anak muda, Tan mempunyai daya tarik yang tak tertahankan. Sewaktu Soeharto berkuasa, menggali pemikiran serta langkah-langkah politik Tan sama seperti membaca novel-novel Pramoedya Ananta Toer. Buku-bukunya disebarluaskan lewat jaringan klandestin. Diskusi yang membahas alam pikirannya dilangsungkan secara berbisik. Meski dalam perjalanan hidupnya Tan akhirnya berseberangan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), sosoknya sering kali dihubungkan dengan PKI: musuh abadi Orde Baru.

Perlakuan serupa menimpa Tan di masa Soekarno berkuasa. Soekarno, melalui kabinet Sjahrir, memenjarakan Tan selama dua setengah tahun, tanpa pengadilan. Perseteruannya dengan para pemimpin pucuk PKI membuat ia terlempar dari lingkaran kekuasaan. Ketika PKI akrab dengan kekuasaan, Bung Karno memilih Musso—orang yang telah bersumpah menggantung Tan karena pertikaian internal partai—ketimbang Tan. Sedangkan D.N. Aidit memburu testamen politik Soekarno kepada Tan. Surat wasiat itu berisi penyerahan kekuasaan kepemimpinan kepada empat nama—salah satunya Tan—apabila Soekarno dan Hatta mati atau ditangkap. Akhirnya Soekarno sendiri membakar testamen tersebut. Testamen itu berbunyi: ”…jika saya tiada berdaya lagi, maka saya akan menyerahkan pimpinan revolusi kepada seorang yang telah mahir dalam gerakan revolusioner, Tan Malaka.”

Politik memang kemudian menenggelamkannya. Di Bukittinggi, di kampung halamannya, nama Tan cuma didengar sayup-sayup. Ketika Harry Albert Poeze, sejarawan Belanda yang meneliti Tan sejak 36 tahun lalu, mendatangi Sekolah Menengah Atas 2 Bukittinggi, Februari lalu, guru-guru sekolah itu terkejut. Sebagian guru tak tahu Tan pernah mengenyam pendidikan di sekolah yang dulu bernama Kweekschool (sekolah guru) itu pada 1907-1913. Sebagian lain justru tahu dari murid yang rajin berselancar di Internet. Mereka masih tak yakin, sampai kemudian Poeze datang. Poeze pun menemukan prasasti Engku Nawawi Sutan Makmur, guru Tan, tersembunyi di balik lemari sekolah.

Di sepanjang hidupnya, Tan telah menempuh pelbagai royan: dari masa akhir Perang Dunia I, revolusi Bolsyewik, hingga Perang Dunia II. Di kancah perjuangan kemerdekaan Indonesia, lelaki kelahiran Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 ini merupakan tokoh pertama yang menggagas secara tertulis konsep Republik Indonesia. Ia menulis Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, jauh lebih dulu dibanding Mohammad Hatta, yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai pleidoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag (1928), dan Bung Karno, yang menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933).

Buku Naar de Republiek dan Massa Actie (1926) yang ditulis dari tanah pelarian itu telah menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia. Tokoh pemuda radikal Sayuti Melik, misalnya, mengenang bagaimana Bung Karno dan Ir Anwari membawa dan mencoret-coret hal penting dari Massa Actie. Waktu itu Bung Karno memimpin Klub Debat Bandung. Salah satu tuduhan yang memberatkan Soekarno ketika diadili di Landrat Bandung pada 1931 juga lantaran menyimpan buku terlarang ini. Tak aneh jika isi buku itu menjadi ilham dan dikutip Bung Karno dalam pleidoinya, Indonesia Menggugat.

W.R. Supratman pun telah membaca habis Massa Actie. Ia memasukkan kalimat ”Indonesia tanah tumpah darahku” ke dalam lagu Indonesia Raya setelah diilhami bagian akhir dari Massa Actie, pada bab bertajuk ”Khayal Seorang Revolusioner”. Di situ Tan antara lain menulis, ”Di muka barisan laskar, itulah tempatmu berdiri…. Kewajiban seorang yang tahu kewajiban putra tumpah darahnya.”

Di seputar Proklamasi, Tan meno-rehkan perannya yang penting. Ia menggerakkan para pemuda ke rapat raksasa di Lapangan Ikada (kini kawasan Monas), 19 September 1945. Inilah rapat yang menunjukkan dukungan massa pertama terhadap proklamasi kemerdekaan yang waktu itu belum bergema keras dan ”masih sebatas catatan di atas kertas”. Tan menulis aksi itu ”uji kekuatan untuk memisahkan kawan dan lawan”. Setelah rapat ini, perlawanan terhadap Jepang kian berani dan gencar.

Kehadiran Tan di Lapangan Ikada menjadi cerita menarik tersendiri. Poeze bertahun-tahun mencari bukti kehadiran Tan itu. Sahabat-sahabat Tan, seperti Sayuti Melik, bekas Menteri Luar Negeri Ahmad Soebardjo, dan mantan Wakil Presiden Adam Malik, telah memberikan kesaksian. Tapi kesaksian itu harus didukung bukti visual. Dokumen foto peristiwa itu tak banyak. Memang ada rekaman film dari Berita Film Indonesia. Namun mencari seorang Tan di tengah kerumunan sekitar 200 ribu orang dari pelbagai daerah bukan perkara mudah.

Poeze mengambil jalan berputar. Ia menghimpun semua ciri khas Tan dengan mencari dokumen di delapan dari 11 negara yang pernah didatangi Tan. Tan, misalnya, selalu memakai topi perkebunan sejak melarikan diri di Filipina (1925-1927). Ia cuma membawa paling banyak dua setel pakaian. Dan sejak keterlibatannya dalam gerakan buruh di Bayah, Banten, pada 1940-an, ia selalu memakai celana selutut. Ia juga selalu duduk menghadap jendela setiap kali berkunjung ke sebuah rumah. Ini untuk mengantisipasi jika polisi rahasia Belanda, Jepang, Inggris, atau Amerika tiba-tiba datang menggerebek. Ia memiliki 23 nama palsu dan telah menjelajahi dua benua dengan total perjalanan sepanjang 89 ribu kilometer—dua kali jarak yang ditempuh Che Guevara di Amerika Latin.

Satu lagi bukti yang mesti dicari: berapa tinggi Tan sebenarnya? Di buku Dari Penjara ke Penjara II, Tan bercerita ia dipotret setelah cukur rambut dalam tahanan di Hong Kong. ”Sekonyong-konyong tiga orang memegang kuat tangan saya dan memegang jempol saya buat diambil capnya. Semua dilakukan serobotan,” ucap Tan. Dari buku ini Poeze pun mencari dokumen tinggi Tan dari arsip polisi Inggris yang menahan Tan di Hong Kong. Eureka! Tinggi Tan ternyata 165 sentimeter, lebih pendek daripada Soekarno (172 sentimeter). Dari ciri-ciri itu, Poeze menemukan foto Tan yang berjalan berdampingan dengan Soekarno. Tan terbukti berada di lapangan itu dan menggerakkan pemuda.

Tan tak pernah menyerah. Mungkin itulah yang membuatnya sangat kecewa dengan Soekarno-Hatta yang memilih berunding dan kemudian ditangkap Belanda. Menurut Poeze, Tan berkukuh, sebagai pemimpin revolusi Soekarno semestinya mengedepankan perlawanan gerilya ketimbang menyerah. Baginya, perundingan hanya bisa dilakukan setelah ada pengakuan kemerdekaan Indonesia 100 persen dari Belanda dan Sekutu. Tanpa itu, nonsens.

Sebelum melawan Soekarno, Tan pernah melawan arus dalam kongres Komunisme Internasional di Moskow pada 1922. Ia mengungkapkan gerakan komunis di Indonesia tak akan berhasil mengusir kolonialisme jika tak bekerja sama dengan Pan-Islamisme. Ia juga menolak rencana kelompok Prambanan menggelar pemberontakan PKI 1926/1927. Revolusi, kata Tan, tak dirancang berdasarkan logistik belaka, apalagi dengan bantuan dari luar seperti Rusia, tapi pada kekuatan massa. Saat itu otot revolusi belum terbangun baik. Postur kekuatan komunis masih ringkih. ”Revolusi bukanlah sesuatu yang dikarang dalam otak,” tulis Tan. Singkat kata, rencana pemberontakan itu tak matang.

Penolakan ini tak urung membuat Tan disingkirkan para pemimpin partai. Tapi, bagi Tan, partai bukanlah segala-galanya. Jauh lebih penting dari itu: kemerdekaan nasional Indonesia. Dari sini kita bisa membaca watak dan orientasi penulis Madilog ini. Ia seorang Marxis, tapi sekaligus nasionalis. Ia seorang komunis, tapi kata Tan, ”Di depan Tuhan saya seorang muslim” (siapa sangka ia hafal Al-Quran sewaktu muda). Perhatian utamanya adalah menutup buku kolonialisme selama-lamanya dari bumi Indonesia.

Berpuluh tahun namanya absen dari buku-buku sejarah; dua-tiga generasi di antara kita mungkin hanya mengenal samar-samar tokoh ini. Dan kini, ketika negeri ini genap 63 tahun, majalah ini mencoba melawan lupa yang lahir dari aneka keputusan politik itu, dan mencoba mengungkai kembali riwayat kemahiran orang revolusioner ini. Sebagaimana kita mengingat bapak-bapak bangsa yang lain: Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Mohammad Natsir, dan lainnya.

Tumpah Darahku dalam Sebuah Buku

Posted in Tak Berkategori on 3 September 2010 by mikelatuwael

AWAL tahun 1926. Di Tanah Air, revolusi sudah ”hamil tua”. Dari persembunyiannya di Geylang Serai, Singapura, buru-buru Tan menulis buku sepanjang 129 halaman agar kelahirannya yang prematur, menurut dia, bisa dicegah. Sialnya, pesan berjudul Massa Actie in Indonesia itu terlambat keluar dari percetakan. Pemberontakan Partai Komunis Indonesia 1926 sama sekali gagal menggoyang kekuasaan Belanda. Banyak pendukung terbunuh, para pemimpin dipenjarakan dan dibuang.

Targetnya tidak kesampaian, tapi Massa Actie kemudian justru disambut penuh gairah oleh kalangan nasionalis. Situasi memang sedang panas saat itu; gerakan antikolonialisme menggeliat di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Dan seperti api kecil yang bermunculan di sana-sini, Massa Actie adalah minyak tanah yang membuatnya berkobar dengan pelajaran sejarah ringkas akan arti sebuah imaji bernama Indonesia.

Di dalam Massa Actie, Tan membongkar kultur takhayul yang mendarah daging di bangsa ini, memperkenalkan macam-macam imperialisme, menunjukkan apa arti revolusi, dan menunjukkan bagaimana kekuatan rakyat bisa dimanfaatkan. Inilah semacam cetak biru bagi revolusi massa; desakan kuat dari bawah untuk mendorong perubahan. ”Massa aksi terjadi dari orang banyak yang bergerak,” katanya.

Tan memperkenalkan pula kepada sesama rakyat di negeri terjajah akan pentingnya persatuan di bawah bendera Federasi Republik Indonesia; gabungan Indonesia Selatan, tempat bercokolnya Hindia Belanda, dan Indonesia Utara, alias Filipina, yang dijajah Amerika. Termasuk Semenanjung Malaka, yang ada di bawah kuasa Inggris. ”Mari kita satukan 100.000.000 yang tertindas dan mendiami pusat strategi dan lalu lintas seluruh benua Asia dan samuderanya,” Tan menulis.

Dan Massa Actie pun memberikan pedoman aksi bagi kemerdekaan. Satu yang hangat diingat Hadidjojo Nitimihardjo. Ia putra Maruto Nitimihardjo, Ketua Indonesische Studieclub yang bersama kelompoknya mengadakan Kongres Pemuda Indonesia pada 26-28 Oktober 1928. Menurut Hadidjojo kepada Tempo, saat itu Maruto dan aktivis lain, Sugondo Djojopuspito, menggandeng seorang pemuda bertubuh ceking berwajah tirus. Dialah Wage Rudolf Supratman.

”W.R. Supratman sudah membaca seluruh buku Massa Actie itu,” kata Hadidjojo. Muhammad Yaminlah yang memaksa Sugondo memberikan waktu bagi Supratman memainkan lagu ciptaannya di situ. Lalu bergemalah lagu Indonesia Raya, lagu yang terinspirasi dari bagian akhir Massa Actie: ”Lindungi bendera itu dengan bangkaimu, nyawamu, dan tulangmu. Itulah tempat yang selayaknya bagimu, seorang putra tanah Indonesia tempat darahmu tertumpah.”

Nasionalisme seorang Marxis

Posted in politics, social movement, culture on 3 September 2010 by mikelatuwael

TAN Malaka meninggal pada usia 52 tahun. Setengah dari usia itu dilewatkannya di luar negeri: enam tahun belajar di Negeri Belanda dan 20 tahun mengembara dalam pelarian politik mengelilingi hampir separuh dunia. Pelarian politiknya dimulai di Amsterdam dan Rotterdam pada 1922, diteruskan ke Berlin, berlanjut ke Moskow, Kanton, Hong Kong, Manila, Shanghai, Amoy, dan beberapa desa di pedalaman Tiongkok, sebelum dia menyelundup ke Rangoon, Singapura, Penang, dan kembali ke Indonesia. Seluruhnya berlangsung antara 1922 dan 1942 dengan masa pelarian yang paling lama di Tiongkok.

Selama masa itu, dia menggunakan 13 alamat rahasia dan sekurangnya tujuh nama samaran. Di Manila dia dikenal sebagai Elias Fuentes dan Estahislau Rivera, sedangkan di Filipina Selatan dia menjadi Hasan Gozali. Di Shanghai dan Amoy dia adalah Ossario, wartawan Filipina. Ketika menyelundup ke Burma, dia mengubah namanya menjadi Oong Soong Lee, orang Cina kelahiran Hawaii. Di Singapura, ketika menjadi guru bahasa Inggris di sekolah menengah atas, dia bernama Tan Ho Seng. Setelah masuk kembali ke Indonesia, dia bekerja di pertambangan Bayah, Banten, dan menjadi Ilyas Hussein.

Pelarian dan penyamaran itu dimungkinkan, salah satunya, karena dia menguasai bahasa-bahasa setempat dengan baik. Ketika dia ditangkap di Manila pada Agustus 1927, koran Amerika, Manila Bulletin, menulis, ”Tan Malaka, seorang Bolsyewik Jawa, ditangkap. Dia berbicara bermacam-macam bahasa: Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Tagalog, Tionghoa, dan Melayu.” Dalam pelarian itu, bermacam-macam pekerjaan sudah dilakukannya.

Di Amsterdam dan Rotterdam dia berkampanye untuk partai komunis Belanda pada waktu diadakan pemilu legislatif dan ditempatkan pada urutan ketiga. Di Moskow dia menjadi pejabat Komintern dengan tugas mengawasi perkembangan partai komunis di negara-negara Selatan, yang mencakup Burma, Siam, Annam, Filipina, dan Indonesia. Di Kanton dia menerbitkan majalah berbahasa Inggris, The Dawn. Di Manila dia menjadi kontributor untuk koran El Debate. Di Amoy dia mendirikan Foreign Languages School yang mendapat banyak peminat dan memberinya cukup uang. Di Singapura dia menjadi guru bahasa Inggris di sekolah menengah atas walau tanpa ijazah.

Sebelum dibuang ke luar negeri, dia dipenjarakan tiga kali oleh pemerintah kolonial, di Bandung, Semarang, dan Jakarta. Dalam pelariannya ke luar negeri, dia dipenjarakan di Manila dan Hong Kong. Setelah kembali ke Indonesia, dia dimasukkan ke penjara oleh pemerintah Indonesia di Mojokerto (1946-1947).

Dia mengagumi secara khusus pejuang kemerdekaan Tiongkok, Dr Sun Yat-sen, yang di kalangan pengikut bawah tanah dipanggil Sun Man. Dia membaca buku San-Min-Chu-I dan berkesimpulan bahwa Dr Sun tidak sepaham dengan dia dalam teori dan metode. Menurut Tan Malaka, Dr Sun bukanlah seorang Marxis, melainkan sepenuh-penuhnya seorang nasionalis. Dalam metode, dia tidak berpikir dialektis, tapi logis. Namun kesanggupan analisisnya tinggi, kemampuan menulisnya baik sekali, dan dia seorang effective speaker. Kekuatan Dr Sun terdapat dalam dua hal lain, yaitu satunya kata dan tindakan serta tabah menghadapi kegagalan. Usahanya memerdekakan Tiongkok dari Kerajaan Manchu baru berhasil pada percobaan ke-17, setelah 16 kali gagal.

Dr Jose Rizal menjadi pahlawan Filipina dan pahlawan Tan Malaka karena ketenangannya menghadapi maut. Beberapa saat sebelum dia ditembak mati, seorang dokter Spanyol rekan seprofesinya meminta izin kepada komandan agar diperbolehkan memeriksa kondisi kesehatannya. Dengan tercengang si dokter melaporkan bahwa denyut pada pergelangan tangan Dr Rizal tetap pada ketukan normal, tanpa perubahan apa pun. Ini hanya mungkin terjadi pada seseorang yang sanggup menggabungkan keyakinan penuh pada perjuangan, ketabahan dalam menderita, dan keteguhan jiwa menghadapi maut. Di sini terlihat bahwa Tan Malaka bukanlah seorang Marxis fundamentalis, karena dia dapat menghargai Dr Sun Yat-sen, nasionalis pengkritik Marxisme, dan mengagumi Dr Rizal, seorang sinyo borjuis dengan berbagai bakat tapi menunjukkan sikap satria sebagai pejuang kemerdekaan.

Kritik Tan Malaka kepada Bung Karno tidaklah ada sangkut-pautnya dengan sikap Soekarno terhadap Madilog, tapi merupakan kritik yang wajar terhadap seseorang yang sangat dihormatinya. Dasar kritiknya adalah apa yang dilihatnya sebagai kebajikan Dr Sun Yat-sen, yaitu satunya kata dengan perbuatan. Menurut Tan Malaka, ketika memimpin PNI, Soekarno selalu mengajak penduduk Hindia Belanda yang berjumlah 70 juta jiwa itu untuk berjuang mencapai Indonesia merdeka dengan menggunakan tiga pegangan, yakni sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan aksi massa yang tak mengenal kompromi. Dia memberikan apresiasi tinggi bahwa Soekarno telah banyak menderita dan dibuang ke pengasingan karena gagasan-gagasan politiknya.

Maka dia kecewa melihat Soekarno berkolaborasi dengan Jepang selama pendudukan di Indonesia. Kekecewaan ini disebabkan oleh dua latar belakang. Pertama, Tan Malaka merasa dekat dengan Soekarno, yang menerapkan aksi massa dalam perjuangan politiknya hampir sepenuhnya menurut apa yang ditulisnya di Singapura pada 1926 dalam sebuah brosur tentang aksi massa. Kedua, dia sangat terpesona oleh perjuangan kemerdekaan Filipina dengan semboyan immediate, absolute and complete independence (kemerdekaan segera, tanpa syarat, dan penuh). Kekecewaan ini sedikit terobati ketika Soekarno-Hatta atas desakan pemuda revolusioner membuat proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Salah satu karya Tan Malaka yang boleh dianggap sebagai opus magnum-nya adalah buku Madilog, yang ditulis selama delapan bulan dengan rata-rata tiga jam penulisan setiap hari di persembunyiannya dekat Cililitan. Buku itu menguraikan tiga soal yang menjadi pokok pemikirannya selama tahun-tahun pembuangan, dengan bahan-bahan studi yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, tapi sebagian besar harus dibuang untuk menghindari pemeriksaan Jepang. Naskah buku ini praktis ditulis hanya berdasarkan ingatan setelah bacaan dihafal di luar kepala dengan teknik pons asinorum (jembatan keledai).

Ketiga soal itu adalah materialisme, dialektika, dan logika. Materialisme diperkenalkannya sebagai paham tentang materi sebagai dasar terakhir alam semesta. Logika dibutuhkan untuk menetapkan sifat-sifat materi berdasarkan prinsip identitas atau prinsip nonkontradiksi. Prinsip logika berbunyi: A tidak mungkin sama dengan yang bukan A. Atau dalam rumusan lain: a thing is not its opposite. Sebaliknya, dialektika menunjukkan peralihan dari satu identitas ke identitas lain. Air adalah air dan bukan uap. Tapi dialektika menunjukkan perubahan air menjadi uap setelah dipanaskan hingga 100 derajat Celsius.

Madilog adalah penerapan filsafat Marxisme-Leninisme. Tesis utama filsafat ini berbunyi: bukan ide yang menentukan keadaan masyarakat dan kedudukan seseorang dalam masyarakat, melainkan sebaliknya, keadaan masyarakatlah yang menentukan ide. Kalau kita mengamati hidup dan perjuangan Tan Malaka, jelas sekali bahwa sedari awal dia hidup untuk merevolusionerkan kaum Murba, agar menjadi kekuatan massa dalam merebut kemerdekaan politik. Dia bergabung dengan Komintern di Moskow dan Kanton karena setuju dengan tesis Komintern bahwa partai komunis di negara-negara jajahan harus mendukung gerakan nasionalis untuk menentang imperialisme.

Semenjak masa mudanya di Negeri Belanda, Tan Malaka sudah terpesona oleh Marxisme-Leninisme. Paham inilah yang menyebabkan dia dipenjarakan berkali-kali dan dibuang ke luar negeri. Ini berarti bukan penjara dan pembuangan itu yang menjadikan dia seorang Marxis, melainkan sikap dan pendiriannya yang Marxislah yang menyebabkan dia dipenjarakan dan dibuang. Selain itu, dia pertama-tama tidak berjuang untuk kemenangan partai komunis di seluruh dunia, tapi untuk kemerdekaan tanah airnya.

Dengan demikian, hidup Tan Malaka menjadi falsifikasi radikal terhadap gagasan Madilog yang dikembangkannya. Paradoksnya: dia seorang Marxis tulen dalam pemikiran, tapi nasionalis yang tuntas dalam semua tindakannya. Kita ingat kata-katanya kepada pemerintah Belanda sebelum dibuang: Storm ahead (ada topan menanti di depan). Don’t lose your head! Ini sebuah language game yang punya arti ganda: jangan kehilangan akal dan jangan kehilangan kepala. Tragisnya, dia yang tak pernah kehabisan akal di berbagai negara tempatnya melarikan diri akhirnya kehilangan kepala di tanah air yang amat dicintainya.

Ignas Kleden – Sosiolog, Ketua Komunitas Indonesia untuk Demokrasi


Warisan TM

Posted in Tak Berkategori with tags , , on 3 September 2010 by mikelatuwael

Tan menginginkan Madilog—singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika—sebagai panduan cara berpikir yang realistis, pragmatis, dan fleksibel. Inilah warisan perantauannya yang berasal dari pemikiran Barat untuk mengikis nilai-nilai feodalisme, mental budak, dan kultus takhayul yang, menurut dia, diidap rakyat Indonesia. Mengapa? Sebab, Tan berpikir, mulai periode Yunnan sampai imperialisme Jepang, bangsa Indonesia tidak mempunyai riwayat kesejarahan sendiri selain perbudakan. Tak mengherankan bila budaya bangsa ini berubah menjadi pasif dan menafikan sama sekali penggunaan asas eksplorasi logika sains.

Kebangkitan Marxisme di Indonesia

Posted in ekopol on 27 Juli 2010 by mikelatuwael
Ditulis oleh Ted Sprague
Jumat, 30 Maret 2007 00:00
Benar, roh Marxisme sudah kembali, menghantui kelas penguasa Indonesia yang sudah tua
renta: kelas oligarki, borjuis, dan negara mereka. Ide Marx and Engels sedang dibangunkan
sekali lagi dari tidur lelapnya. Empat puluh dua tahun setelah kekalahan telak gerakan komunis
Indonesia pada tahun 1965, dan dengan itu semua gerakan massa, kelas buruh bangun
kembali dari tidurnya. Apa yang saat itu dikira mustahil justru dilakukan pada tahun 1998 saat
rakyat Indonesia menumbangkan rejim Soeharto.
Apa yang saat itu dikira mustahil justru dilakukan pada tahun 1998 saat rakyat Indonesia
menumbangkan rejim Soeharto. Walaupun gerakan tersebut tidak menghasilkan perubahan
sosial yang sistematis karena absennya sebuah partai revolusioner, kelas buruh Indonesia
sudah memperoleh pelajaran yang paling berharga, mereka mengerti bahwa mereka mampu
merubah masyarakat. Tiga puluh dua tahun di bawah rejim yang paling represif yang dipimpin
oleh Soeharto dan kroni-kroni kapitalisnya telah merampas semua pengalaman politik dari
kelas buruh. Sekarang, mereka kembali mempelajari pengalaman-pengalaman tersebut.
Sampai pada tahun 1965, kelas buruh Indonesia mempunyai kesadaran yang paling maju di
wilayah Asia Tenggara. Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah partai komunis ketiga terbesar
setelah Uni Soviet dan Cina. Kondisi-kondisi objektif sudah ada untuk pengambilan kekuasaan
oleh rakyat dan mengantarkan revolusi sosialis.
Akan tetapi, sebagai seorang Marxis, kita tahu bahwa ada satu aspek lainnya yang sekrusial
kondisi objektif, dan aspek tersebut adalah faktor subjektif, yaitu kepemimpinan revolusioner.
Dan inilah yang tidak ada saat itu. Kepemimpinan PKI dijangkiti oleh teori dua-tahapnya
Stalinis; bagi mereka, revolusi sosialis tidak ada di agenda mereka.
Pada tahun 1951, D.N. Aidit, Sekretaris Jendral PKI mengatakan bahwa yang harus dibentuk:
…adalah front persatuan antara semua kekuatan anti-imperialis dan anti-feudal di seluruh
negara. Dalam kata lain, kelas buruh, kelas tani, kelas borjuis kecil, dan kelas borjuis national.
Tugas dari aliansi ini adalah bukan untuk membawa revolusi sosialis, tetapi membawa
reformasi demokratik. (D.N. Aidit, The Road to People’s Democracy in Indonesia, hlm 94.)
Pada tahun 1961, dia juga menyatakan,
Perjuangan kelas kita mengambil bentuk perjuangan nasional. Prinsip utama yang kita pegang
di dalam perjuangan nasional adalah bahwa perjuangan kelas diletakkan di bawah perjuangan
nasional.” (Ever Forward to Storm Imperialism and Feudalism, Jakarta, 1961 hlm 19-20)
Kepemimpinan PKI yang penuh pengkhianatan ini sesungguhnya berkata bahwa kelas buruh
harus mengambil kekuasaan dan kemudian memberikan kekuasaan tersebut kepada kaum
borjuis nasional supaya tahap perkembangan kapitalisme dapat diselesaikan.
1 / 5
Hantu Marxisme Berkeliaran di Indonesia
Ditulis oleh Ted Sprague
Jumat, 30 Maret 2007 00:00
Kesetiaan kepemimpinan PKI kepada kaum borjuis nasional benar-benar tak tergoyahkan,
sampai mereka membiarkan jutaan anggota dan simpatisan mereka dibantai oleh tentaranya
Soeharto, secara nyata menghancurkan basis massa mereka sendiri. PKI dan gerakan massa
Indonesia hancur, massa mengalami demoralisasi dan ini diikuti oleh 32 tahun reaksi di bawah
kuasa militer Suharto.
Represi
Selama 32 tahun ini, Suharto dan pendukung kapitalisnya melakukan segalanya untuk
menekan semua gerakan massa melalui kuasa militer dan pencucian otak masyarakat yang
sistematis. Sejarah Indonesia ditulis ulang supaya sesuai dengan agenda kelas penguasa.
Peran gerakan komunis di dalam perjuangan pembebasan nasional Indonesia dihapus.
Fakta-fakta yang menunjukkan bahwa banyak pahlawan nasional Indonesia: Tan Malaka,
Sutan Syahrir, Sukarno, dan lain-lain dipengaruhi oleh ide Marxisme juga dihapus dari sejarah.
Komunisme dibuat menjadi tabu; setiap tahun, sebuah film dokumenter yang diproduksi oleh
pemerintah diputar sebagai upaya untuk mempengaruhi pikiran rakyat bahwa komunisme
adalah bahaya laten terhadap masyarakat, bahwa seorang komunis adalah seseorang yang
haus darah dan benci Tuhan.
Pada tahun 1966, sebuah hukum dibuat untuk melarang segala bentuk tendensi Komunisme
dan Marxisme dan hukum ini masih berlaku hingga saat ini. Bahkan, satu tahun setelah
gerakan mahasiswa 1998 yang menumbangkan rejim Soeharto, suatu gerakan yang
menjanjikan reformasi demokratik, sebuah hukum yang lain dibuat untuk melarang Marxisme.
Hukum ini bahkan melarang seseorang untuk mempunyai hubungan apapun dengan organisasi
Marxis-Leninis/Komunis – sebuah kejahatan yang dihukum dengan 15 tahun penjara.
Teror, penculikan, “penghilangan”, dan pembunuhan adalah metode yang dipilih untuk
mendiamkan mereka yang dianggap sebagai bahaya terhadap negara. Secara praktikal, kelas
penguasa Indonesia telah melakukan tugas yang sempurna dalam mencekik massa dan ide
Marx and Engels. Akan tetapi, satu hal mudah yang tidak mampu dilakukan oleh kapitalisme
adalah memberikan rakyat sebuah kehidupan yang layak. Tidak peduli sebanyak apapun buah
bibir yang ditebarkan oleh kaum moralis kapitalis terhadap konsep persamaan hak dan
kemakmuran untuk semua rakyat, eksistensi kapitalisme mensyaratkan ketidaksamaan hak.
Harus ada sekelompok besar orang yang tidak memiliki apapun kecuali tenaga kerja mereka
dan oleh karenanya, mereka terpaksa menjual tenaga kerja mereka kepada penawar tertinggi;
dan di sisi yang lain adalah penawar tertinggi, yaitu sekelompok kecil kapitalis yang memiliki
segalanya.
Keharusan (necessity) mengekpresikan dirinya melalui sebuah kebetulan (accident). Sebuah
krisis ekonomi menghantam Asia pada tahun 1997, menyingkap kontradiksi-kontradiksi yang
sudah menggunung yang disebabkan oleh berpuluh-puluh tahun penjarahan di bawah
Soeharto. Dengan kaum miskin yang terhantam paling keras oleh krisis tersebut, rakyat
Indonesia bergerak. Dipimpin pertama kali oleh mahasiswa, rakyat Indonesia menumbangkan
2 / 5
Hantu Marxisme Berkeliaran di Indonesia
Ditulis oleh Ted Sprague
Jumat, 30 Maret 2007 00:00
rejim Soeharto pada tahun 1998.
Peristiwa 1998 membawa kelonggaran-kelonggaran tertentu untuk kelas buruh Indonesia,
kebanyakan dalam bentuk perubahanan demokratik politik. Dimana dulu arena politik hanya
bisa diakses oleh tiga partai politik, sekarang ada berlusin-lusin partai politik, walaupun
kebanyakan didominasi oleh kaum oportunis yang semata-mata menginginkan bagian mereka
di dalam kekuasaan negara. Banyak serikat buruh dan organisasi massa yang bermunculan.
Koran-koran sekarang dipenuhi dengan artikel-artikel yang mengkritik pemerintah, sebuah aksi
yang dulu kala dapat dipenjara.
Mengenai kelonggaran tersebut, pemimpin-pemimpin reformis, seperti bebek yang mengulangi
kata-kata kelas penguasa, berbicara mengenai kehebatan demokrasi Barat, dalam kata lain
demokrasi borjuis. Mereka berbicara mengenai kehebatan pasar bebas, yang seharusnya
membawa kemakmuran ekonomi dan kebebasan politik kepada masyarakat. Mereka berbicara
mengenai penegakan hukum, yaitu hukum borjuis.
Akan tetapi, reformis-reformis tersebut tampaknya lupa, mungkin karena niat buruk mereka,
bahwa kelonggaran-kelonggaran tersebut dipaksakan kepada kelas penguasa oleh massa yang
sudah kelelah anmenghadapi ketidakmampuan sistem sekarang ini untuk memajukan
masyarakat. Dan ketika kelonggaran-kelonggaran ini mulai mengancam kepentingan kelas
penguasa, atau dalam bahasa pemerintah, mereka mulai mengancam investasi luar negeri,
perkembangan ekonomi, dan kesucian negara, kelonggaran tersebut dapat dengan mudah
dijungkirbalikkan.
Pada bulan September 2004, aktivis HAM Indonesia yang paling terkemuka, Munir,diracuni
dengan arsenik dalam penerbangannya ke Amsterdam. Walaupun bukti-bukti menunjukkan
peran pemerintah di dalam pembunuhan ini, selain pilot pesawat Pollycarpus yang dijadikan
kambing hitam, tidak ada seorang pun yang dibawa ke pengadilan.
Pembunuhan ini tidaklah mengejutkan. Aktivitas Munir dalam kampanye HAM sudah tidak
dapat ditoleransi oleh kelas penguasa karena dia sudah membeberkan berulang-ulang kali
kebusukan pemerintahan sekarang ini, menunjukkan tanpa keraguan bahwa pemerintahan
sekarang tidak berbeda dengan pemerintahan lama di bawah Soeharto. Pembeberan ini
sangatlah berbahaya karena massa dapat meraih kesimpulan bahwa tidak peduli sebanyak
apapun pemerintah ini diganti dan direformasi, di bawah kapitalisme rakyat hanya akan
mendapatkan represi dan eksploitasi. Kampanye HAMnya Munir serta pembunuhan Munir
sendiri telah menunjukkan watak represif dari kapitalisme.
Peran Fundamentalis Islam
Tidak mampu untuk menggunakan aparatus negara secara terbuka guna mencekik perbedaan
pendapat, kelas penguasa Indonesia beralih ke kelompok fundamentalis Islam dan massa
anti-komunisme untuk menuai rasa takut. Ormas-ormas ini, didukung oleh tentara dan polisi,
sudah digunakan untuk membubarkan rally, demonstrasi, mogok kerja buruh, dan acara diskusi
publik.
3 / 5
Hantu Marxisme Berkeliaran di Indonesia
Ditulis oleh Ted Sprague
Jumat, 30 Maret 2007 00:00
Pada tanggal 12 Desember 2006, sebuah acara publik di Surabaya untuk memperingati hari
HAM, dimana sebuah film dokumenter mengenai pembantaian kaum komunis Indonesia tahun
1965-66 akan diputar, dibubarkan oleh Front Anti Komunis Indonesia (FAKI). Dua hari
kemudian, ormas anti-komunis yang serupa, dengan nama Persatuan Masyarakat Anti
Komunis (PERMAK) dan Pemuda Panca Marga (PPM) membubarkan dengan paksa sebuah
acara diskusi Marxisme di Bandung. Kemudian pada tanggal 17 Januari 2007, ormas
anti-komunis yang sama yaitu FAKI, menyerang Kongres Pendirian Partai Persatuan
Pembebasan Nasional (PAPERNAS) di Yogyakarta, sebuah partai kiri yang baru saja dibentuk.
PAPERNAS merupakan hasil merger dari Partai Rakyat Demokratik (PRD), yang memainkan
peran penting di dalam penumbangan rejim Soeharto, dengan organisasi-organisasi
mahasiswa, tani, dan buruh. Pada bulan Maret, Konferensi Daerah PAPERNAS di Jawa Timur
juga diserang ratusan preman di bawah bendera Islam. Dan baru-baru ini, deklarasi
PAPERNAS di Jakarta dihalangi dengan kekerasan oleh ratusan preman yang menuduh
PAPERNAS sebagai partai komunis, dan menghidupkan kembali pemburuan komunis pada
tahun 1965/66.
Serial kejadian-kejadian tersebut, yang hanya merupakan setetes air di dalam lautan, bukanlah
sebuah kebetulan. Jelas bahwa serangan-serangan preman tersebut terorganisir dan
merepresentasikan reaksi kelas penguasa terhadap hantu komunisme yang mengancam
kepentingan mereka. Reaksi semacam ini yang datang dari kelas penguasa bukanlah hal yang
baru bagi rakyat Indonesia yang sudah menderita berabab-abad penindasan oleh kapitalisme
dalam berbagai samaran; pertama di dalam bentuk kolonialisasi Belanda, yang diikuti oleh
imperialisme Inggris dan Jepang, dan kedua di bawah “orde baru” yang dipimpin oleh rejim
Soeharto yang didukung oleh Amerika; dan ini berlanjut tentu saja di bawah selimut “era
reformasi”.
Buruh dan Kaum Muda Indonesia Bangkit Kembali
Akan tetapi, rakyat Indonesia yang tertindas, seperti orang-orang yang tertindas di seluruh
dunia, bangkit melawan penindas mereka. Buruh, petani, dan mahasiswa di seluruh penjuru
mulai berorganisasi. Diskusi-diskusi dan pertemuan-pertemuan, di aula yang besar, di halaman
belakang, di teras rumah, di warung kopi, di internet, dimana-mana, terjadi saat kaum muda
Indonesia sekarang sedang mencari gagasan, mencari jalan untuk merubah masyarakat
mereka.
Banyak organisasi yang dulu berhasil menumbangkan Soeharto terpecah-belah karena
absennya sebuah program revolusioner yang bisa menyatukan mereka semua; ada yang
menyerah kepada reformisme; ada yang kecewa dengan arah gerakan sekarang ini. Tetapi,
kegagalan untuk menghasilkan perubahan yang sistematis setelah jatuhnya Soeharto justru
menjadi pecutan terhadap kaum muda supaya mereka mempersenjatai diri mereka dengan ide
dan perspektif yang kuat.
10 tahun belakangan ini, banyak karya klasik Marxis yang sudah diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia, banyak juga yang sudah diterbitkan ke dalam buku-buku; contohnya, dalam
tiga tahun, 3 volume Das Kapital sudah diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam buku. Juga,
sudah banyak buku dan film dokumenter tentang sejarah PKI, pembentukannya dan
4 / 5
Hantu Marxisme Berkeliaran di Indonesia
Ditulis oleh Ted Sprague
Jumat, 30 Maret 2007 00:00
kehancurannya, yang sudah dirilis.
Jelas-jelas, ide Marxisme tidak hanya menarik perhatian mahasiswa tetapi juga buruh-buruh,
karena Marxisme mampu menjelaskan, dengan bahasa yang sangat jelas, problem-problem
kapitalisme dan jalan yang harus ditempuh untuk emansipasi kaum buruh. Karena inilah, kelas
penguasa Indonesia dan teman asingnya bergetar ketakutan, ini dibuktikan dengan kampanye
kekerasan mereka terhadap Marxisme dan Komunisme.
Kelas penguasa Indonesia mengira bahwa mereka telah mengubur Marxisme pada tahun 1965
ketika mereka membubarkan PKI; mereka pikir dengan membantai jutaan komunis dan
simpatisan komunis, ide marxisme tidak akan bangkit kembali. Akan tetapi, satu hal yang harus
mereka ketahui adalah bahwa kebusukan kapitalisme merupakan tanah yang subur untuk
ide-ide Marxis, dan selama masih ada pengemis di jalanan, roh Marxisme akan selalu
menghantui Indonesia.
Tugas dari generasi sekarang adalah untuk melengkapi diri mereka dengan pelajaran sejarah;
untuk belajar dari sejarah kegagalan Stalinisme yang direpresentasikan oleh jatuhnya PKI pada
tahun 1965 dan rubuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, untuk belajar dari sejarah watak
pengkhianatan reformisme, untuk mempersenjatai diri mereka dengan metode dan tradisi
Marxisme yang sejati, dan untuk memberikan sebuah tubuh yang nyata kepada roh Marxisme
dengan membangun organisasi Marxis revolusioner.
Seperti yang dikatakan oleh Ernest Everhard[1]: “Kalah saat ini, tapi bukan untuk selamanya!
Kita sudah belajar banyak hal. Besok, perjuangan kita akan bangkit kembali, lebih bijak dan
lebih disiplin.”
Catatan
[1] Ernest Everhard adalah tokoh fiksi karangan Jack London di dalam bukunya The Iron Heel
yang terbit pada tahun 1908, dimana Ernest Everhard adalah seorang Sosialis.
Tulisan ini diterjemahkan dari “A Specter is Haunting Indonesia – The Specter of Marxism” oleh
Ted Sprague
, kontributor Rumahkiri.net
.
5 / 5

Hantu Marxisme Berkeliaran di IndonesiaDitulis oleh Ted SpragueJumat, 30 Maret 2007 00:00Benar, roh Marxisme sudah kembali, menghantui kelas penguasa Indonesia yang sudah tuarenta: kelas oligarki, borjuis, dan negara mereka. Ide Marx and Engels sedang dibangunkansekali lagi dari tidur lelapnya. Empat puluh dua tahun setelah kekalahan telak gerakan komunisIndonesia pada tahun 1965, dan dengan itu semua gerakan massa, kelas buruh bangunkembali dari tidurnya. Apa yang saat itu dikira mustahil justru dilakukan pada tahun 1998 saatrakyat Indonesia menumbangkan rejim Soeharto.Apa yang saat itu dikira mustahil justru dilakukan pada tahun 1998 saat rakyat Indonesiamenumbangkan rejim Soeharto. Walaupun gerakan tersebut tidak menghasilkan perubahansosial yang sistematis karena absennya sebuah partai revolusioner, kelas buruh Indonesiasudah memperoleh pelajaran yang paling berharga, mereka mengerti bahwa mereka mampumerubah masyarakat. Tiga puluh dua tahun di bawah rejim yang paling represif yang dipimpinoleh Soeharto dan kroni-kroni kapitalisnya telah merampas semua pengalaman politik darikelas buruh. Sekarang, mereka kembali mempelajari pengalaman-pengalaman tersebut.Sampai pada tahun 1965, kelas buruh Indonesia mempunyai kesadaran yang paling maju diwilayah Asia Tenggara. Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah partai komunis ketiga terbesarsetelah Uni Soviet dan Cina. Kondisi-kondisi objektif sudah ada untuk pengambilan kekuasaanoleh rakyat dan mengantarkan revolusi sosialis.Akan tetapi, sebagai seorang Marxis, kita tahu bahwa ada satu aspek lainnya yang sekrusialkondisi objektif, dan aspek tersebut adalah faktor subjektif, yaitu kepemimpinan revolusioner.Dan inilah yang tidak ada saat itu. Kepemimpinan PKI dijangkiti oleh teori dua-tahapnyaStalinis; bagi mereka, revolusi sosialis tidak ada di agenda mereka.Pada tahun 1951, D.N. Aidit, Sekretaris Jendral PKI mengatakan bahwa yang harus dibentuk:…adalah front persatuan antara semua kekuatan anti-imperialis dan anti-feudal di seluruhnegara. Dalam kata lain, kelas buruh, kelas tani, kelas borjuis kecil, dan kelas borjuis national.Tugas dari aliansi ini adalah bukan untuk membawa revolusi sosialis, tetapi membawareformasi demokratik. (D.N. Aidit, The Road to People’s Democracy in Indonesia, hlm 94.)Pada tahun 1961, dia juga menyatakan,Perjuangan kelas kita mengambil bentuk perjuangan nasional. Prinsip utama yang kita pegangdi dalam perjuangan nasional adalah bahwa perjuangan kelas diletakkan di bawah perjuangannasional.” (Ever Forward to Storm Imperialism and Feudalism, Jakarta, 1961 hlm 19-20)Kepemimpinan PKI yang penuh pengkhianatan ini sesungguhnya berkata bahwa kelas buruhharus mengambil kekuasaan dan kemudian memberikan kekuasaan tersebut kepada kaumborjuis nasional supaya tahap perkembangan kapitalisme dapat diselesaikan.1 / 5Hantu Marxisme Berkeliaran di IndonesiaDitulis oleh Ted SpragueJumat, 30 Maret 2007 00:00Kesetiaan kepemimpinan PKI kepada kaum borjuis nasional benar-benar tak tergoyahkan,sampai mereka membiarkan jutaan anggota dan simpatisan mereka dibantai oleh tentaranyaSoeharto, secara nyata menghancurkan basis massa mereka sendiri. PKI dan gerakan massaIndonesia hancur, massa mengalami demoralisasi dan ini diikuti oleh 32 tahun reaksi di bawahkuasa militer Suharto.RepresiSelama 32 tahun ini, Suharto dan pendukung kapitalisnya melakukan segalanya untukmenekan semua gerakan massa melalui kuasa militer dan pencucian otak masyarakat yangsistematis. Sejarah Indonesia ditulis ulang supaya sesuai dengan agenda kelas penguasa.Peran gerakan komunis di dalam perjuangan pembebasan nasional Indonesia dihapus.Fakta-fakta yang menunjukkan bahwa banyak pahlawan nasional Indonesia: Tan Malaka,Sutan Syahrir, Sukarno, dan lain-lain dipengaruhi oleh ide Marxisme juga dihapus dari sejarah.Komunisme dibuat menjadi tabu; setiap tahun, sebuah film dokumenter yang diproduksi olehpemerintah diputar sebagai upaya untuk mempengaruhi pikiran rakyat bahwa komunismeadalah bahaya laten terhadap masyarakat, bahwa seorang komunis adalah seseorang yanghaus darah dan benci Tuhan.Pada tahun 1966, sebuah hukum dibuat untuk melarang segala bentuk tendensi Komunismedan Marxisme dan hukum ini masih berlaku hingga saat ini. Bahkan, satu tahun setelahgerakan mahasiswa 1998 yang menumbangkan rejim Soeharto, suatu gerakan yangmenjanjikan reformasi demokratik, sebuah hukum yang lain dibuat untuk melarang Marxisme.Hukum ini bahkan melarang seseorang untuk mempunyai hubungan apapun dengan organisasiMarxis-Leninis/Komunis – sebuah kejahatan yang dihukum dengan 15 tahun penjara.Teror, penculikan, “penghilangan”, dan pembunuhan adalah metode yang dipilih untukmendiamkan mereka yang dianggap sebagai bahaya terhadap negara. Secara praktikal, kelaspenguasa Indonesia telah melakukan tugas yang sempurna dalam mencekik massa dan ideMarx and Engels. Akan tetapi, satu hal mudah yang tidak mampu dilakukan oleh kapitalismeadalah memberikan rakyat sebuah kehidupan yang layak. Tidak peduli sebanyak apapun buahbibir yang ditebarkan oleh kaum moralis kapitalis terhadap konsep persamaan hak dankemakmuran untuk semua rakyat, eksistensi kapitalisme mensyaratkan ketidaksamaan hak.Harus ada sekelompok besar orang yang tidak memiliki apapun kecuali tenaga kerja merekadan oleh karenanya, mereka terpaksa menjual tenaga kerja mereka kepada penawar tertinggi;dan di sisi yang lain adalah penawar tertinggi, yaitu sekelompok kecil kapitalis yang memilikisegalanya.Keharusan (necessity) mengekpresikan dirinya melalui sebuah kebetulan (accident). Sebuahkrisis ekonomi menghantam Asia pada tahun 1997, menyingkap kontradiksi-kontradiksi yangsudah menggunung yang disebabkan oleh berpuluh-puluh tahun penjarahan di bawahSoeharto. Dengan kaum miskin yang terhantam paling keras oleh krisis tersebut, rakyatIndonesia bergerak. Dipimpin pertama kali oleh mahasiswa, rakyat Indonesia menumbangkan2 / 5Hantu Marxisme Berkeliaran di IndonesiaDitulis oleh Ted SpragueJumat, 30 Maret 2007 00:00rejim Soeharto pada tahun 1998.Peristiwa 1998 membawa kelonggaran-kelonggaran tertentu untuk kelas buruh Indonesia,kebanyakan dalam bentuk perubahanan demokratik politik. Dimana dulu arena politik hanyabisa diakses oleh tiga partai politik, sekarang ada berlusin-lusin partai politik, walaupunkebanyakan didominasi oleh kaum oportunis yang semata-mata menginginkan bagian merekadi dalam kekuasaan negara. Banyak serikat buruh dan organisasi massa yang bermunculan.Koran-koran sekarang dipenuhi dengan artikel-artikel yang mengkritik pemerintah, sebuah aksiyang dulu kala dapat dipenjara.Mengenai kelonggaran tersebut, pemimpin-pemimpin reformis, seperti bebek yang mengulangikata-kata kelas penguasa, berbicara mengenai kehebatan demokrasi Barat, dalam kata laindemokrasi borjuis. Mereka berbicara mengenai kehebatan pasar bebas, yang seharusnyamembawa kemakmuran ekonomi dan kebebasan politik kepada masyarakat. Mereka berbicaramengenai penegakan hukum, yaitu hukum borjuis.Akan tetapi, reformis-reformis tersebut tampaknya lupa, mungkin karena niat buruk mereka,bahwa kelonggaran-kelonggaran tersebut dipaksakan kepada kelas penguasa oleh massa yangsudah kelelah anmenghadapi ketidakmampuan sistem sekarang ini untuk memajukanmasyarakat. Dan ketika kelonggaran-kelonggaran ini mulai mengancam kepentingan kelaspenguasa, atau dalam bahasa pemerintah, mereka mulai mengancam investasi luar negeri,perkembangan ekonomi, dan kesucian negara, kelonggaran tersebut dapat dengan mudahdijungkirbalikkan.Pada bulan September 2004, aktivis HAM Indonesia yang paling terkemuka, Munir,diracunidengan arsenik dalam penerbangannya ke Amsterdam. Walaupun bukti-bukti menunjukkanperan pemerintah di dalam pembunuhan ini, selain pilot pesawat Pollycarpus yang dijadikankambing hitam, tidak ada seorang pun yang dibawa ke pengadilan.Pembunuhan ini tidaklah mengejutkan. Aktivitas Munir dalam kampanye HAM sudah tidakdapat ditoleransi oleh kelas penguasa karena dia sudah membeberkan berulang-ulang kalikebusukan pemerintahan sekarang ini, menunjukkan tanpa keraguan bahwa pemerintahansekarang tidak berbeda dengan pemerintahan lama di bawah Soeharto. Pembeberan inisangatlah berbahaya karena massa dapat meraih kesimpulan bahwa tidak peduli sebanyakapapun pemerintah ini diganti dan direformasi, di bawah kapitalisme rakyat hanya akanmendapatkan represi dan eksploitasi. Kampanye HAMnya Munir serta pembunuhan Munirsendiri telah menunjukkan watak represif dari kapitalisme.Peran Fundamentalis IslamTidak mampu untuk menggunakan aparatus negara secara terbuka guna mencekik perbedaanpendapat, kelas penguasa Indonesia beralih ke kelompok fundamentalis Islam dan massaanti-komunisme untuk menuai rasa takut. Ormas-ormas ini, didukung oleh tentara dan polisi,sudah digunakan untuk membubarkan rally, demonstrasi, mogok kerja buruh, dan acara diskusipublik.3 / 5Hantu Marxisme Berkeliaran di IndonesiaDitulis oleh Ted SpragueJumat, 30 Maret 2007 00:00Pada tanggal 12 Desember 2006, sebuah acara publik di Surabaya untuk memperingati hariHAM, dimana sebuah film dokumenter mengenai pembantaian kaum komunis Indonesia tahun1965-66 akan diputar, dibubarkan oleh Front Anti Komunis Indonesia (FAKI). Dua harikemudian, ormas anti-komunis yang serupa, dengan nama Persatuan Masyarakat AntiKomunis (PERMAK) dan Pemuda Panca Marga (PPM) membubarkan dengan paksa sebuahacara diskusi Marxisme di Bandung. Kemudian pada tanggal 17 Januari 2007, ormasanti-komunis yang sama yaitu FAKI, menyerang Kongres Pendirian Partai PersatuanPembebasan Nasional (PAPERNAS) di Yogyakarta, sebuah partai kiri yang baru saja dibentuk.PAPERNAS merupakan hasil merger dari Partai Rakyat Demokratik (PRD), yang memainkanperan penting di dalam penumbangan rejim Soeharto, dengan organisasi-organisasimahasiswa, tani, dan buruh. Pada bulan Maret, Konferensi Daerah PAPERNAS di Jawa Timurjuga diserang ratusan preman di bawah bendera Islam. Dan baru-baru ini, deklarasiPAPERNAS di Jakarta dihalangi dengan kekerasan oleh ratusan preman yang menuduhPAPERNAS sebagai partai komunis, dan menghidupkan kembali pemburuan komunis padatahun 1965/66.Serial kejadian-kejadian tersebut, yang hanya merupakan setetes air di dalam lautan, bukanlahsebuah kebetulan. Jelas bahwa serangan-serangan preman tersebut terorganisir danmerepresentasikan reaksi kelas penguasa terhadap hantu komunisme yang mengancamkepentingan mereka. Reaksi semacam ini yang datang dari kelas penguasa bukanlah hal yangbaru bagi rakyat Indonesia yang sudah menderita berabab-abad penindasan oleh kapitalismedalam berbagai samaran; pertama di dalam bentuk kolonialisasi Belanda, yang diikuti olehimperialisme Inggris dan Jepang, dan kedua di bawah “orde baru” yang dipimpin oleh rejimSoeharto yang didukung oleh Amerika; dan ini berlanjut tentu saja di bawah selimut “erareformasi”.Buruh dan Kaum Muda Indonesia Bangkit KembaliAkan tetapi, rakyat Indonesia yang tertindas, seperti orang-orang yang tertindas di seluruhdunia, bangkit melawan penindas mereka. Buruh, petani, dan mahasiswa di seluruh penjurumulai berorganisasi. Diskusi-diskusi dan pertemuan-pertemuan, di aula yang besar, di halamanbelakang, di teras rumah, di warung kopi, di internet, dimana-mana, terjadi saat kaum mudaIndonesia sekarang sedang mencari gagasan, mencari jalan untuk merubah masyarakatmereka.Banyak organisasi yang dulu berhasil menumbangkan Soeharto terpecah-belah karenaabsennya sebuah program revolusioner yang bisa menyatukan mereka semua; ada yangmenyerah kepada reformisme; ada yang kecewa dengan arah gerakan sekarang ini. Tetapi,kegagalan untuk menghasilkan perubahan yang sistematis setelah jatuhnya Soeharto justrumenjadi pecutan terhadap kaum muda supaya mereka mempersenjatai diri mereka dengan idedan perspektif yang kuat.10 tahun belakangan ini, banyak karya klasik Marxis yang sudah diterjemahkan ke dalambahasa Indonesia, banyak juga yang sudah diterbitkan ke dalam buku-buku; contohnya, dalamtiga tahun, 3 volume Das Kapital sudah diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam buku. Juga,sudah banyak buku dan film dokumenter tentang sejarah PKI, pembentukannya dan4 / 5Hantu Marxisme Berkeliaran di IndonesiaDitulis oleh Ted SpragueJumat, 30 Maret 2007 00:00kehancurannya, yang sudah dirilis.Jelas-jelas, ide Marxisme tidak hanya menarik perhatian mahasiswa tetapi juga buruh-buruh,karena Marxisme mampu menjelaskan, dengan bahasa yang sangat jelas, problem-problemkapitalisme dan jalan yang harus ditempuh untuk emansipasi kaum buruh. Karena inilah, kelaspenguasa Indonesia dan teman asingnya bergetar ketakutan, ini dibuktikan dengan kampanyekekerasan mereka terhadap Marxisme dan Komunisme.Kelas penguasa Indonesia mengira bahwa mereka telah mengubur Marxisme pada tahun 1965ketika mereka membubarkan PKI; mereka pikir dengan membantai jutaan komunis dansimpatisan komunis, ide marxisme tidak akan bangkit kembali. Akan tetapi, satu hal yang harusmereka ketahui adalah bahwa kebusukan kapitalisme merupakan tanah yang subur untukide-ide Marxis, dan selama masih ada pengemis di jalanan, roh Marxisme akan selalumenghantui Indonesia.Tugas dari generasi sekarang adalah untuk melengkapi diri mereka dengan pelajaran sejarah;untuk belajar dari sejarah kegagalan Stalinisme yang direpresentasikan oleh jatuhnya PKI padatahun 1965 dan rubuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, untuk belajar dari sejarah watakpengkhianatan reformisme, untuk mempersenjatai diri mereka dengan metode dan tradisiMarxisme yang sejati, dan untuk memberikan sebuah tubuh yang nyata kepada roh Marxismedengan membangun organisasi Marxis revolusioner.Seperti yang dikatakan oleh Ernest Everhard[1]: “Kalah saat ini, tapi bukan untuk selamanya!Kita sudah belajar banyak hal. Besok, perjuangan kita akan bangkit kembali, lebih bijak danlebih disiplin.

“Catatan[1] Ernest Everhard adalah tokoh fiksi karangan Jack London di dalam bukunya The Iron Heelyang terbit pada tahun 1908, dimana Ernest Everhard adalah seorang Sosialis.Tulisan ini diterjemahkan dari “A Specter is Haunting Indonesia – The Specter of Marxism”

olehTed Sprague, kontributor Rumahkiri.net.5 / 5

SEJARAH DUNIA MODERN

Posted in ekopol on 27 Juli 2010 by mikelatuwael

SEJARAH  DUNIA  MODERN

  1. I. Pengantar
  1. Kisah ini diceritakan berdasarkan tulisan yang dibuat tigapuluh tahun yang lalu. Banyak orang sukar memahami pergolakan dunia saat ini. Mereka tidak paham mengapa terjadi pergolakan. Memang, mereka mendengar radio, menonton TV, membaca banyak buku, namun mereka masih juga gagal memahami perkembangan yang terjadi. Segala yang terjadi seolah-oalah tidak ada kaitan antara yang satu dengan yang lainnya.
  2. Karena itu, guna memahami masalah tersebut, kita harus terlebih dahulu mempelajari sejarah. Tapi dunia ini terlalu luas dan sejarahnya terlalu panjang. Oleh karena itu, tentunya, kajian tersebut akan panjang sekali waktunya. Satu kelompok pemuda di Swedia (Pal Rydberg, Gittan Jonsson, Annika Elmquist, Ann Mari Langemar, Carol Baum Schmorleitz, dan Rius) sepakat untuk mengkaji dengan teliti sejarah Eropa dan Afrika sepanjang 500 tahun yang silam. Kemudian, mereka mengunjungi setiap perpusatakaan di kota-kota untuk mendapatkan buku-buku yang ada kaitan dengannya. Mereka terus menrus membaca sehingga berhasil mengumpulkan banyak catatan. Kemudian mereka mendiskusikan dan memperdebatkan catatan-catatan tersebut. Setelah sekian lama, pandangan mereka menjadi semakin jelas. Mereka kini mempunyai cukup bahan dan bersedia menjadikannya sebuah buku (termasuk dalam bentuk kartun) untuk diterbitkan. Tentu saja buku tersebut harus mudah dibaca, mudah dipahami, bahkan oleh anak-anak sekalipun. Lalu mereka membuat kerangka buku tersebut menjadi: buku ringkasan sejarah.
  3. Mereka pun menemui beberapa orang untuk merundingkan penerbitannya. Dengan banyak alasan, mereka menolaknya. Namun, akhirnya, ada juga orang yang membantu penerbitannya. Maka mereka pun menerbitkannya, dan sudah diterjemahkan di beberapa negeri, bakan sudah difilmkan secara berseri. Ya, inilah buku tentang SEJARAH  DUNIA  MODERN.

II. Perjalanan Para Pengembara

  1. Kehidupan Eropa Tengah pada tahun 1400-an. Eropa Tengah terdiri dari beberapa kerajaan kecil, yang dipisahkan oleh hutan-hutan lebat. Rakyat di satu negeri tidak tahu menahu apa yang terjadi di negeri lain. Mereka tidak bisa dan tidak mau menjelajah menembus hutan belantara di sekeliling mereka untuk mengetahuinya, karena mereka takut binatang buas, hantu atau makhluk lain yang berbahaya. Rakyat hidup dengan berburu dan mengumpulkan bahan-bahan keperluan, di samping bercocok tanam dan beternak. Anak-anak tidak bersekolah karena sekolah belum lah ada. Tidak ada pekerja atau buruh pabrik karena pabrik belum lah ada. Yang ada hanyalah TANAH, tempat mereka tinggal dan bekerja. Kaum TANI, PETANI,  mengerjakan tanah, para TUKANG yang mahir membuat alas kaki, bajak atau pakaian di pasar kecil, PEMBESAR atau PENGUASA NEGERI (biasanya bangsawan) tinggal di istana di dalam kota, dan PADRI/PASTOR/PENDETA berkhotbah di gereja.
  2. Petani dan tukang harus melakukan semua perkerjaan guna menyediakan semua keperluan hidup seperti makanan, pakaian dan kediaman. Walaupun penguasa negeri tidak bekerja, mereka bisa memiliki makanan yang banyak, pakaian yang indah, dan tempat tinggal yang nyaman. Mengapa begitu? Itu karena penguasa negeri dan padre MENGUASAI  TANAH. Petani dan tukang (yang mahir) terpaksa membayar CUKAI, PAJAK, atau UPETI yang tinggi kepada penguasa negeri dan padri agar diperbolehkan tinggal dan bekerja di atas tanah tersebut. Pada awalnya, cukai, pajak, atau upeti tersebut dibayar dengan gandum, susu, daging, sepatu, pakaian atau senjata.
  3. Tidak banyak rakyat yang menggugat perkara tersebut, karena penguasa negeri memiliki dan menguasai sejumlah tentara bersenjata yang senantiasa bersedia menghancurkan siapa saja yang memberontak; Padri menakut-nakuti rakyat dengan kutukan bahwa neraka akan disediakan bagi mereka yang enggan membayar cukai, pajak atau upeti.
  4. Maka terbentuk lah  KELAS  dalam masyarakat: PETANI dan TUKANG adalah  KELAS  YANG  TIDAK  MEMILIKI  ATAU  MENGUASAI  TANAH; sedangkan penguasa negeri (biasanya bangsawan) dan padre adalah  KELAS  YANG  MEMILIKI  ATAU  MENGUASAI  TANAH. Patut atau layak kah kelas yang tidak memiliki atau menguasai tanah harus membayar cukai, pajak atau upeti kepada kelas yang memiliki atau menguasai tanah? Coba kita renungkan penjelasan-penjelasan di bawah ini:

Steven: Umurku 11 tahun. Cukai, pajak atau upeti sudah ada sejak dahulu kala. Aku tidak bisa membayangkan keadaan di mana cukai, pajak atau upeti tidak ada atau tidak dikenakan kepada kami;

Soren: Umurku 29 tahun. Kalau tidak ada kelas yang memiliki atau menguasai tanah, maka kami mungkin tak akan memiliki pekerjaan.

Seorang ibu: Umurku 64 tahun. Kakek aku bodoh, beliau memberontak. Dia menghasut agar semua orang tak membayar cukai, pajak atau upeti. Kebetulan negeri kami sedang mengalami kesulitan pada tahun itu. Apa faedah yang diperolehnya? Dia digantung oleh tentara pemerintah dan padre mengatakan bahwa dia akan masuk neraka.

Permaisuri: Umurku 34 tahun. Berani-beraninya mereka mendurhakai? Bukan kah ini tanahku dan aku berhak memberlakukan atau mengenakan cukai, pajak atau upeti?

Padri: Umurku 57 tahun. Kaya dan miskin adalah kehendak Tuhan. Tuhan menghendaki mereka membayar cukai, pajak atau upeti kepada kami.

  1. Kini datang pula para pengembara atau pedagang ke negeri atau daerah  ini. Dengan kereta kuda yang sarat muatan. Mereka menuju istana—apa yang diperbuatnya di sana? Apa yang dibawanya di kereta kuda dipamerkannya kepada penguasa negeri. Mereka menunjukkan lada hitam yang, bila dicampur dengan daging, maka dagingnya tak akan mudah busuk, bisa disimpan selama satu tahun. Mereka juga menunjukkan benda-benda yang terbuat dari kaca atau gelas, seperti mangkuk, gelas dan lain sebagainya. Mereka itulah yang disebut saudagar atau pedagang. Mereka menginginkan barang-barangnya dipertukarkan dengan barang-barang milik penguasa negeri—seperti telur, mentega, manisan, kerajinan tangan (pedang, pakaian bulu kambing, dan lain sebagainya). Pedagang melihat bahwa barang-barang yang dimiliki oleh para penguasa negeri tersebut akan sangat laku (dan menguntungkan) bila dijual atau dipertukarkan di Venesia (Italia). Begitulah: para pembesar atau penguasa negeri membeli banyak barang dari para pedagang dan membayarnya dengan harta yang diperoleh dari rakyat yang tidak memiliki tanah.
  2. Para pembesar atau penguasa negeri sering mengadakan pesta-pesta kerajaan; dan para pedagang meneruskan perjalanan (kerja) nya. Para pedagang menganggap bahwa para penguasa negeri sangat bodoh—mereka hanya mementingkan soal pakaian, makanan, dan hiburan; sebenarnya mereka kaya tapi mereka tidak bijak menggunakan kekayaannya seperti pedagang. Namun, para pedagang sering mendapat gangguan (yang dapat mengurangi keuntungannya) dari para penguasa negeri: mereka sering dicegat di jalan oleh tentara penguasa negeri dan diwajibkan membayar pajak perjalanan kepada penguasa negeri.
  3. Pedagang tidak mempunyai hak di negeri tersebut, tidak memiliki tanah, tidak mau menjadi petani atau tukang. Kerja pedagang semata-mata membeli dan menjual. Bagaimana bisa mereka bisa maju dengan usaha seperti itu. Itu karena pertukarannya tidak adil—lada hitam, yang sangat sulit didapatkan di satu daerah, tapi mudah didapatkan di Venesia, dipertukarkan secara tidak adil. Beli murah, jual mahal! Menjualnya dengan nilai berkali lipat dari membelinya. Tak ada yang bisa menghalang-halangi para pedagang mencari untung. Yang diperlukan oleh mereka hanyalah CARA dan UANG.
  4. Para pedagang di Venesia memiliki banyak uang. Uang tersebut disebut sebagai MODAL. Modal digunakan untuk membeli barang-barang yang mahal dari para pedagang Arab. Barang-barang berharga tersebut dibawa dari Cina, India, Arab dan Afrika. Para pedagang menjelajah ke seluruh negeri Eropa, menjual dan menukan barang-barang mereka. Mereka memiliki barang-barang dagangan yang luar biasa—baru dan indah—dan para penguasa negeri sanggup membayaranya berapa saja yang dihargai para pedagang. Setiap kali para pedagang pulang ke Venesia, meeka menajdi semakin kaya,dan modal mereka semakin bertambah—sehingga bisa membeli lebih banyak barang untuk dijual dan dipertukarkan. Semakin banyak yang dijual, semakin banyak pula uangnya mereka, juga modal mereka. Karena kebijakannya menggunakan uang, mereka tak pernah kehabisan uang, sehingga modalnya semakin bertambah terus. Menurut mereka, menjadi “pemodal” atau KAPITALIS adalah benar, enak dan indah.
  5. Para pemodal di Venesia terus mengusahakan perniagaan mereka yang semakin maju. Mereka tidak mau orang lain juga berlaku seperti mereka atau mengikuti mereka. Para pedagang Portugis mengadakan kesepakatan secara sendiri-sendiri, tak mau mengajak pedagang negeri lain atau, bila bisa, tak mau bergabung dengan pedagang negerinya sendiri. Mereka berusaha mencari jalan agar mereka sendiri bisa langsung mendapatkan barang-barang dagangan tersebut dari India. Mereka mencari cara untuk berlayar ke India dan Cina agar bisa mendapatkan barang-barang dagangan tersebut langsung dari sumbernya, tujuannya adalah untuk mengalahkan pesaing mereka—para pedagang Venesia. Rencana tersebut mebahayakan karena belum pernah, sebelum ini, ada yang berlayar begitu jauh. Bagi mereka itu tidak jadi soal. Masalahnya adalah siapa yang akan membiayai mereka. Maka mereka memohon biaya dari kerajaan—yang mereka minta dari kerajaan adalah uang, kapal, sedikit emas dan barang-barang lain yang bisa dipertukarkan. Sebagai imbalan bagi kerajaan, mereka menjanjikanberbagai persembahan. Raja menyetujuinya. (Dari mana datangnya uang dan lain sebagainya yang dipersembahakan kepada para pedagang tersebut? Tentu saja dari rakyat yang tidak betanah karena raja yang memiliki dan menguasai tanah!) Sungguh aneh: rakyat jelata datang ke pelabuhan untuk mengucapkan selamat jalan; awak kapalnya pun terdiri dari orang-orang miskin yang gagah berani. Maka berlayarlah Vasco De Gama menuju ke tempat yang belum diketahui.
  1. Penemuan Dunia Baru
    1. Dalam buku catatannya, Vasco De Gama menulis: “Minggu berganti minggu, bulan bertukar bulan, hanya air, air, air…
    2. 4 November, 1497. Setelah empat bulan berlayar, barulah nampak daratan. Sekarang kapal mereka sedang merapat ke sebuah tanjung di selatan Benua Afrika. Di sana, mereka mendapat perbekalan air dan kalung gading yang sungguh cantik sebagai penukar bagi barang-barang yang kami bawa seperti topi dan lonceng. Penduduk di daerah ini hidup dengan berburu binatang. Mereka tinggal bersuku-suku dalam kelompok-kelompok kecil dan senantiasa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Setiap orang memikul beban kerja yang sama dan segala makanan yang diperoleh dibagi sama rata. Tidak ada perbedaan ‘kelas’ dalam mayarakat mereka.
    3. Ketika mereka berlayar pergi, angin tenggara bertiup kencang, menyulitkan pelayaran mereka. Pada tanggal 22 November 1497 mereka mengelilingi Tanjung Harapan.
    4. Pada hari natal 1497, mereka berlabuh untuk kedua kalinya. 10 Januari, 1498. Orang-orang di negeri yang kami datangi mempunyai budi pekerti yang tinggi. Mereka menamakan tempat itu”Negeri orang-orang baik”. Orang-orang baik itu hidup sebagai petani. Pada masa sebelumnya, mereka hidup sebagai pemburu, tapi saat hasil buruan mereka merosot, mereka beralih menjadi petani dan memeliharta ternak. Sekarang, makanan sudah tidak menjadi masalah lagi bagi mereka. Ketua kampung tinggal dalam rumah besar. Ternaknya melebihi ternak orang lain, dan pekerjaan beternak dilakuakn oleh orang kampung lain. Perbedaan kelas mulai muncul dalam masyarakat mereka.
    5. 25 Januari, 1498. Merka menyaksikan suatu pemandangan yang ganjil. Dua orang pedagang menaiki kapal mereka. Yang satu mengenakan sorban sutera, dan yang lainnya mengenakan topi beludru. Mereka melewati beberapa pelabuhan yang mewah, yang namanya tak pernah mereka dengar sebelumnya—seperti Kilwa dan Quelimane. Terdapat rumah-rumah yang terbuat dari batu, dan pelabuhan sesak dengan kapal. Di situ mereka bertemu dengan orang yang mengenal benar Lautan India. Dalam hal pelayaran, mereka lebih pandai. Pelabuhan tersebut sama dengan pelabuhan-pelabuhan di Eropa. Perbedaan di antara manusia dapat dengan jelas dilihat di situ—yakni, perbedaan kelas sangat ketara. Di atas sekali, terdapat Raja dan para kerabatnya; terdapat juga pedagang, tukang dan petani–yang datang ke pelabuhan membawa hasil tanaman mereka, Abdi hamba juga ada di situ. Mereka adalah orang-orang suruhan. Mereka bisa menebus diri mereka (agar bebas), sedangkan raja hidup dalam kemewahan—yang diperoleh dari cukai, pajak atau upeti dari rakyat jelata.
    6. Para pedagang merasa lebih betah tinggal di sana ketimbang di Eropa. Perhubungan mereka luas—dari Cina dan India sebelah Timur hingga berhubungan dengan para pedagang di Benin, Mali, Kongo, Mozaambique di sebelah barat. Jadi, inilah rute perjalanan dagangnya: Venesia, Benin, Kongo, Mozambique, pelabuhan Quelimane, Pelabuhan Kilwa, India dan Cina. Para pedagang berdagang di seluruh Lautan Hindi. Mereka berhbungan satu dengan yang lainnya, apakah dengan unta (di padang pasir), kapal (di laut), atau dengan menggunakan bakul-bakul berjalan melintasi hutan belantara. Mereka menganut satu agama: Islam. Orang-orang Portugis cemburu, iri, dengan kejayaan pedagang Islam. Kain, lada hitam, minyak wangi, besi, emas, tembikar, gading dan barang-barang mewah lainnya, yang sangat diingini oleh orang-orang Portugis, semuanya dikuasai oleh para pedagang islam. Malangnya, orang-orang portugis tak memiliki barang-barang mewah untuk dipertukarkan dengan barang-barang mewah yang diperdagangkan para pedagang Islam. Beberapa hari di sana, dua orang ternama datang menemui mereka. Mereka  adalah para pembesar di tempat itu, dan mereka tak menghargai apapun yang diberikan oleh para pendatang tersebut. Mereka tidak sedikit un kagum melihat kapal pendatang karena mereka memiliki kapal dan pernah melihat kapal yang lebih besar dan lebih banyak kelengkapannya. Setelah mendapat perbekalan yang cukup, maka mereka berlayar kembali menuju India.
    7. Tanggal 20 Mei, 1498, merapat ke India, negeri rempah-rempah dan lada hitam. Orang-orang Portugis tak punya perbekalan yang cukup untuk berlayar jauh. Bagaimana sambutan orang-orang India terhadap orang-orang Portugis? Hadiah-hadiah dari Vasco De Gama tidak dihargai. Hadiah seperti madu, manisan dan lain-lainnya ditertawakan oleh orang-orang India. Hanya satu yang digemari oleh Maharaja India, yakni baju kulit yang dikenakan oleh anak-anak kapal Portugis. Tapi, bagaimana pun juga, orang-orang Portugis bernasib baik dan berhasil juga membawa pulang lada hitam dan jenis rempah-rempah lainnya. 29 Mei, 1498 mereka pulang. Juli, 1499, akhirnya mereka berhasil kembali ke tanah airnya.
    8. Pelayaran mereka memberikan keuntungan 60 kali lipat—melebih perdagangan dengan Venesia. Raja begitu gembira atas keberhasilan Vasco da Gama, tapi Vasco merasa khawatir. Mereka bisa saja mendapatkan keuntungan besar, tapi barang dagangan mereka tidak menarik minat mereka karena mereka lebih memiliki barang-barang yang bagus. Raja marah. Sekali lagi kapal-kapal mereka meninggalkan Lisabon, dan kali ini dilengkapi dengan alat-alat perang.
    9. Suatu dunia baru ditemukan dan perampasan pun dimulai. Sekali lagi kapal-kapal  Portugis tiba di pantai timur Afrika. Kali ini lengkap dengan meriam, senapan dan tentara. Kapal berlabuh di luar pelabuhan perdagangan utama. Tentara mendarat. Mereka mengepung pelabuhan. Siapa pun yang menentang, dibunuh. Tentara merangsek ke rumah-rumah dan istana serta mengambil barang apapun yang berharga. Penduduk di sekitar pelabuhan berlarian  menyelamatkan nyawa mereka masing-masing. Kapal Portugis dimuati penuh dengan emas dan gading, Setelah tidak ada lagi yang bisa dirampas, pelabuhan pun dibakar. Tak lama kemudian, hancurlah pelabuhan perdagangan yang pernah ada di sepanjang timur Afrika. Kekayaan mengalir ke Eropa. Akhirnya Portugis menguasai perdagangan antara Afrika, Cina Inda dan kepulauan nusantara Melayu (nusantara). Spanyol menguasai perdagangan Lautan Atlantik dan Amrika Selatan. Keadaan yang sama juga terjadi di Amerika. Tentara, meriam, senapan, pembunuhan. Portugis dan Spanyol menaklukkan tanah jajahan yangluas di Amerika Selatan, termasuk Inca dan Azrec. Mereka merampas tanah penduduk asli. Penduduk setempat tak dapat melawan penyerang dari eropa, yang menggunakan meriam dan kuda. Mereka dipaksa menjadi hamba abdi, budak. Mereka bekerja di tambang-tambang emas dan tembaga atau di ladang-ladang tembakau. Mereka bekerja keras menyangkul tanah untuk tuan mereka yang baru ini. Siapa yang tidak bekerja, segera dipukuli. Banyak sekali penduduk pribumi yang mati dan keadaan yang menyengsarakan tersebut. Barang-barang yang dihasilkan oleh penduduk setempat tersebut diangkut dengan kapal ke Eropa. Di sana barang-barang tersebut dijual.
    10. IV. Penyatuan negeri-negeri kecil
      1. Kekayaan mengalir ke Eropa. Orang dari negeri-negeri yang ditaklukkan Portugis dan Spanyol tak leluasa untuk berdagang—mereka ditarik cukai atau pajak bila berniaga karena tanah mereka sudah diakui sebagai tanah orang-orang Portugis dan Spanyol. Apapun yang berharga dirampas sebagai cukai atau pajak. Saat berdagang di pelabuhan, mereka ditarik cukai atau pajak karena, katanya, tanah mereka sudah bukan tanah mereka lagi tpi tanah orang-orang Portugis atau Spanyol. Mata uang yang diakui pun hanya mata uang Portugis dan Spanyol, kecuali uang emas—yang dinilai rendah sekali oleh Portugis dan Spanyol. Bila penduduk setempat tak mau menerima nilai yang ditetapkan, maka mereka diancam akan dibunuh. Perniagaan menjadi sulit karena cukai, pajak atau upeti yang tinggi, dan kerajaan akan menggunakan kekerasan (tentaranya) bila pedagang atu mayarakat tak mau membayaranya sesuai dengan jumlah yang ditetapkan kerajaan. Para pedagang dan rakyat banyak yang merasa sia-sia berusaha karena keuntungannya lebih banyak atau sebagian besar diambil kerajan. Bahkan untuk melewati jembatan saja harus kena pajak.
      2. Para pedagang mulai tidak puas dan membicarakan persoalannya. Mereka menganggap bahwa kapitalis tak akan berhasil bila ditekan, diganggu dan dihambat oleh kerajaan. Mereka mulai merencanakan perlawanan. Mereka sepakat bahwa tuan-tuan tanah harus dihapuskan. Akhirnya mereka meminta pertolongan tuan tanah yang paling berkuaqsa: RAJA. Karena bila hak-hak tuan-tuan tanah dikurangi atau dihapuskan, maka raja akan menjadi lebih kaya raya dan, di atas pertimbangan itulah maka raja setuju untuk membantu para pedagang. Para penasihat raja pun setuju dengan pendapat seperti itu. Namun, raja khawatir kekurangan dana dan persenjataan saat raja harus memerangi para tuan tanah yang memebrontak pada aturan baru raja. Para pedagang lah yang membantu menyediakan dana tersebut.
      3. Berita mengenai kesepakatan antara raja dan para pedagang tersebut menimbulkan kemarahan para tuan tanah. Para tuan tanah tidak rela hak-haknya (terutama atas tanah) dihapuskan oleh raja. Akibatnya: terjadilah PERTENTANGAN KELAS dalam wujud peperangan antara para pedagang (yang dibantu raja) dengan para tuan tanah. Tapi para pedagang lebih pandai, mereka tidak pergi berperang (seperti para tuan tanah), tapi mereka menyewa tentara bayaran. Perang anatara tuan tanah dengan pedagang memiliki persamaan atau hamir terjadi di Eropa dalam tahun 1500-an dan 1600-an Masehi.
      4. Para pedagang tak memiliki waktu untuk bertempur di medan juang, mereka memiliki perkerjaan yang lebih penting: berdagang. Mereka membayar tentara bayaran dan akhli-akhli ilmu pengetahuan untuk bekerja bagi para pedagang—terutama senjata api dan meriam. Dalam perang antara raja—yang sedang membela pedagang—dengan tuan-tanah, senjata-senjata raja juga ada yang dibeli dari  pedagang. Bahkan para pedagang membeli bengkerl-bengkel kecil pembuat senjata dan menggabungkannya menjadi pabrik sejata besar—mereka mengupah tukang-tukang (yang tadinya pemilik bengkel kecil) dan petani yang tak bertanah untuk bekerja di pabrik senjata besar itu.
      5. Di pabrik besar tersebut, pekerjaan dipercepat dengan membagi-bagi kerja (atau spesialisasi) sesuai dengan kekhliannya. Para pedagang (kapitalis) banyak mendapat keuntungan dari penjualan senjata. Tentu saja, dengan begitu, modalnya menjadi bertambah. Dan kini, para pedagang (kapitalis) mendapat perlindungan dari raja, menjadi teman baik raja. Sangat menyakitkan: para tuan tanah terpaksa membeli persenjataan kepada para pedagang dan kapitalis pabrik senjata, sedangkan keuntungannya sebagian diberikan pada raja untuk membiayai perang melawan tuan tanah. Jadi, uang yang diberikan  tuan tanah (untuk membeli senjata) diguanakan oleh raja untuk memerangi tuan tanah; para tuan tanah menggali liang kuburnya sendiri.
      6. Perang, perdagangan dan bengkel-bengkel, pabrik-pabrik (senjata) telah menambah kekuatan pedagang (kapitalis). Dalam ronde pertama, para pedagang (kapitalis) telah memenangkan pertetangtan kelas tersebut. Setelah itu, oleh raja dibuatlah undang-undang yang menguntungkan para pedagang (kapitalis). Raja membayar upah hakim dan akhli hukum untuk membuat undang-undang baru yang akan diberlakuakn di seluruh negeri. Undang-undang tersebut, antara lain: semua negeri-negeri kecil diwajibkan membentuk persekutuan di bawah pemerintahan seorang raja; perdagangan bebas. Tuan-tuan tanah tak  boleh memiliki tentaranya sendiri, dan mereka tak boleh memberlakukan sembarang cukai atau pajak kepada para pedagang. (Tapi para petani masih harus membayar sewa atau mempersembahakan upeti kepada tuan tanah.); dan siapa yang melanggar undang-undang tersebut, akan menerima hukuman dari tentara dan polisi kerajaan. Banyak negeri-negeri barau bermunculan di Eropa pada permulaan tahun 1600—Denmark; Swedia; Inggris; Polandia; Prancis; Portugal; Spanyol. Sebelum itu, Eropa hanya terdiri dari negeri-negeri kecil. Kemudian negeri-negeri kecil ini disatukan dan membentuk negeri yang besar (tetapi Jerman dan Italia belum lah terbentuk). Para pedagang dapat melakukan perdagangannya dengan bebasa dalam tiap-tiap negeri. Dan para pedagang diperbolehkan menggunakan tentara kerjaan untuk membantu menjalankan perdagangannya di Asia dan Amerika (Selatan).
      7. Menurut petani: “Pada awalnya, hanya tuan tanah yang memiliki kekuasaan. Sekarang, para pedagang itu juga telah berkuasa. Walaupun kebanyakan dari mereka tak memiliki tanah. Golongan kita lah, kaum tani, yang sebenar-benarnya membiayai mereka.”
      8. Pencuri dan Penjarah. Tuan hakim tinggal di kota pelabuhan yang besar. Beliau menjadi kaya raya dan memiliki banyak saham dalam berbagai serikat dagang yang merampas, memburu, merampok dan menjarah di seluruh pelosok dunia. Tiap-tiap kali pulang ke tanah airnya, serikat-serikat dagang tersebut akan banyak membawa keuntungan. Tuan hakim yang kaya raya ini terus hidup dalam kemewahan,  Kekayaannya ditumpuk di atas tumapahan darah beribu-ribu orang yang tak berdosa di Afrika, Asia dan Amerika (Selatan). Bagaimana pun, hakim laknat tersebut asih juga bernasib baik karena, walaupun kemewahan hidupnya diperoleh dari kegiatan orang lain yang merampok, menyamun, dan mencuri untuknya, namun, mereka tergolong ke dalam kelas atau golongan yang berkuasa. Golongan ini mempunyai kekuasaan untuk menentukan yang benar dan yang salah. Sebagai contoh:

Hakim yang kaya ini ditugaskan menyiasati undang-undang dan menentukan hukukman berat yang dijatuhkan terhadap orang yang salah. Suatu hari, seorang anak muda yang gagah dan berhati mulia telah kedapatan melakukan kesalahan. Ibu dan bapak John telah lama bekerja kepada tuan tanah, dan tuan  tanahnya, dari waktu ke waktu, telah menaikkan sewa tanahnya. Satu ketika, ibu dan baoak John tak sanggup lagi membayar sewa tanah yang terlalu mahal. Lantas mereka dihalau ke luar rumah dan tanahnya, serta terpaksa mengemis untuk menghidupi John yang, pada saat itu, baru berumur satu tahun.

Bapak john jatuh sakit, lalu menemui ajalnya setelah menderita wabah demam panas yang menyerang para pengemis. Setelah kematian bapaknya, ibu John pindah ke kota pelabuhan tempat tuan hakim tersebut tinggal. Ibu John tinggal di kawasan terlarang bersama-sama pengemis-pengemis lainnya. Desakan hidup memaksa beliau menjual John kepada seorang pedagang kaya yang hendak mempekrjakan John sebagai pesuruhnya. Ketika itu umur John 11 tahun. Tidak ada rasa belas kasihan di hati pedagang itu. Apa yang diperoleh John sebagai upahhanyalah semangkuk sop dan setampuk roti sehari. John tak berani mempersoalkan perkara tersbut kepada tuannya.

Suatu hari, ketika John telah telah dewasa, ia bertemu kembali dengan ibunya yang sudah tua. Ibunya datang dengan harapan dapat bertemu John di gudang tempat john bekerja. Dia menyesal sepanjang hidupnya karena telah menjual anaknya semata-mata karena uang. Sekarang pengemis ini datang untuk menemui anaknya, mungkin untuk terakhir kalinya sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir. John dapat merasakan penderitaan ibunya yang sangat miskin ini dan, serentak, saatitu juga, ia teringat kemewahan hidup pedagang itu, tuannya. Perasaan benci memenuhi jiwanya. Malam itu, dia masuk ke rumah pedagang itu, lalu mencuri sebuh mangkuk perak. Esoknya dia menjualnya guna mendapat sedikit untuk membeli obat bagi ibunya.

Nasibnya kurang baik, Pencurian tersebut akhirnya diketahui juga. John ditangkap dan ditempatkan di sel tahanan polisi yang gelap dan berbau busuk. Dia tidak bertemu ibunya lagi. Mungkin ibnya telah meninggal pada malam yang sama dia ditahan. John dihadapkan ke hadapan pengadilan.  Dia terpaksa mendengarkan tuduhan yang panjang lebar yang dia sendiri kurang paham. Kemudian tuan hakim memberikan keputusan untuk menjatuhkan hukuman. Anak muda ini adalah “seorang penjarah, pencuri yang paling berbahaya, dan melakuakan penghinaan kepada masyarakat”. Dia tidak menghormati hak milik perseorangan. Dia dihukum penjara seumur hidup. Syukur, dia tidak dihukum gantung.

Begitu keadaan di zaman itu, dan begitu juga lah keadaannya pada hari ini. Perampok-perampok besar yang berhasil menjadi kaya raya dari hasil rampasan dan pembunuhan dilepaskan tanpa menerima hukuman apapun. Mereka digambarkan sebagai orang-orang yang bijaksana dan layak menerima penghormatan dari masyarakat. Akan tetapi, kecurian-kecurian kecil yang sekadar bertujuan menyambung nafas setelah tanah dan rumahnya dirampas, dianggap sebagai perampas berat, dan dimasukkan ke dalam penjara. Pencuri-pencuri kecil menerima hukuman penjara, sedangkan perampok dan pembunuh terbesar memerintah negara.

  1. V. 100 juta orang ditawan
    1. Orang-orang Portugis dan Spanyol terus menerus menguasai perdagangan di Lautan Hindia dan menaklukan tanah-tanah jajahan di seluruh Amerika (Selatan). Di negeri-negeri lain, di Eropa, kaum kapitalis sibuk membicarakan bagaimana cara-cara untuk mengkukuhkan kedudukan mereka.
    2. John Hawkins sedang berbincang-bincang dengan seorang sahabatnya. Isi pembicaraan mereka antara lain: bahwa barang-barang dagangan yang memberikan keuntungan besar adalah kopi dan gula; tapi mulai banyak orang menanam kopi Portugis di Amerika (Selatan); sehingga mereka merasa terancam karena, dengan begitu, harga kopi akan turun; Tapi mereka akhirnya sadar bahwa mereka tak bisa menghalangi orang-orang lain untuk menanam kopi, apalagi bagi mereka yang memiliki banyak uang (modal); kemudian, mereka memiliki siasat baru: karena orang-orang sekarang banyak yang menanam kopi, maka mereka, tentu, membutuhkan tenaga kerja, dan mereka akan menyediakan (maksudnya: menjual) tenaga kerja tersebut, yang diambil dari Afrika—karena mereka merasa bahwa orang-orang pribumu Amerika (Selatan) malas-malas.
    3. Cerita sebenarnya mengenai John Hawkins. John adalah orang yang garang, kasar, dan tak punya hati. Dia lah yang akan merusak Afrika. Musim Panas, London, 1562, John Hawkins menjelaskan kepada para pedagang, pengusaha (kapitalis): bahwa bila para kapitalis itu mau menyediakan 3 kapal kepadanya, lengkap dengan tentaranya, termasuk juga sedikit barang yang akan dipertukarkan, dia berjanji akan membawa kembali keuntungan berlipat ganda atas modal yang ditanamkan oleh para kapitalis tersebut. Pada 3 Agustus, 3 buah kapal berlayar dari pelabuhan London. Sesampainya di tujuan, mereka menukar 10 bilah pisau dan 10 meter kain dengan seorang hamba abdi (budak) yang kuat. John mendapatkan segala yang dikehendakinya, tapi ia masih merasa tak puas. Kemudian mereka mendatangi kampung lainnya. Kampung dibakar dan yang menentang dibunuh. Kini kapal telah penuh dengan muatan. Ada 300 budak yang diangkut di dalamnya. Di tengah laut mereka menjual budak-budak tersebut kepada kapal portugis. Dengan uang yang diperoleh, John membeli kulit binatang dan gula. Kapal mereka dipenuhinya barang-barang dagangan tersebut. Mereka membeli 2 kapal lagi (sebelum berlayar pulang) untuk memuat barang-barang dagangan lagi. Di London John menjual semua yang dibawanya. Para kapitalis yang dahulu memberinya modal sangat gembira dengan keuntungan besar yang diperoleh John, yang juga akan dipersembahkan kepada mereka. Ratu Elizabeth memberi penghormatan bagi mereka yang memajukan perdagangan budak tersebut.
    4. Perdagangan budak dengan cepat meningkat. Kapal-kapal dari Belanda, Inggris, Jerman, Denmark, Portugal dan Spanyol berlayar sepanjang pantai barat Afrika untuk membeli budak. Mereka juga mengupah orang kulit hitam untuk mencari budak (sebangsanya), bahkan dengan bayaran senjata. Penduduk semakin takut—mereka ditangkapi untuk dijual. 6 meter kain dan 10 pucuk senapan merupakan bayarannya. Budak diburu hingga kerajaan Kongo. Raja mengadukan perkara tersebut kepada raja mereka, yang bernama Affonso.
    5. Sultan mengirim utusan ke semua ketua adat dan pedagang-pedagangnya yang tinggal di pantai. Sulatan melarang mereka menjual budak kepada kapail-kapal Eropa. Merka malah mengatakan: “Oh! Tuanku sudah tua, tak bisa mengerti perkara ini.”; “Inilah cara yang paling mudah untuk menjadi kaya.”; Lihat betapa indahnya barang-barang ini, sutera, emas dan perak.”; “Dan senjata dari Eropa lebih kuat.”
    6. Perhatikan! Ada perbedaan keuntungan yang diperoleh dari penjualan budak di Eropa dan Afrika.  Pedagang di Afrika, hanya memperoleh barang-barang yang bermutu; tapi di Eropa, pedagang-pedagang menanamkan modalnya di pabrik-pabrik atau perkebunan-perkebunan, dan modal mereka semakin bertambah dari masa ke masa.
    7. Raja Alfonso mengirim utusan demi utusan kepada sahabatnya, Raja Portugis. Inilah isi suratnya: “Emanuel yang saya hormati, sungguh, aku telah melarang penggunaan senjata yang dibawa oleh pedagang-pedagang tuan ke dalam kawasan pemerintahan kami. kebanyakan pembesar kami tidak lagi patuh kepada pemerintah kamikarena tuan memiliki lebih banyak harta ketimbang yang kami miliki. Pedagang-pedagang tuan mengambil anak-anak kami, lelaki dan perempuan, setiap hari. Kegairahan pedagang-pedagang tuan tersebut akan melenyapkan pendudukku. Saudaraku yang terhormat, kami memerlukan bantuan tuan dalam perkara ini. Harap tuan bisa melarang pedagang-pedagang tuan menjual senjata api. Adalah harapan kami agar perjualan budak tidak berlaku di negeri ini. Affonso.”
    8. Inilah jawaban bagi surat Affonso: “Affonso yang dimuliakan, harapa tuan tidak berkecil hati. Kita haruslah senantiasa tidak ketinggalan zaman. Pembelian dan penjualan budak sudah menjadi perdagangan penting di Eropa. Tidak ada satu kuasa pun di dunia ini yang dapat menghentikannya. Tambahan pula, aku tak memiliki kuasa apapun dalam perdagangan tersebut. Aku sendiri sudah banyak berhutang kepada pedagang-pedagang tersebut. Salam, Emanuel.” Kini, kain dan gading tidak bisa dipertukarkan dengan senapan, karena senapan hanya akan dipertukarkan dengan budak. Kini Raja dan penduduk memerlukan senapan untuk melindungi diri dari pemburu budak. Tapi untuk mendapatkan senapan, mereka harus menjual budak. Sekarang penduduk memiliki prinsip baru: siapa yng tak menjual budak, akan dijual sebagai budak.
    9. Pusat-pusat perdagangan budak tumbuh bagai jamur, bagai cendawan di sepanjang pantai Barat Afrika. Pedagang budak yang tinggal di sana bagai lintah yang sedang menghosap darah Afrika. Pedagang-pedagang dari Inggris, Jerman, Spanyol, Protugis, Belanda, dan Denmark memerlukan lebih banyak budak.  100 juta manusia ditawan. Keganasan tersebut menyebar ke sluruh Afrika. Ada orang-orang kampung yang satu menawan budak dari kampung-kampung tetangganya. Rakyat menjadi tidak saling percaya dan saling curiga sesama mereka. Tak ada satu pun yang berani mengerjakan tanah lebih luas dari keperluan mereka sendiri. Pada saat-saat tertentu, ladang ditinggalkan dan penduduk lari bersembunyi. Kain tak perlu ditenun lagi karena kain dari Eropa lebih murah harganya. Dalam keadaan seperti itu, kekejaman pun merajala. Perdagangan yang menguntungkan tersebut telah memebrikan keuntungan, laba, kepada perusahaan di Eropa, sementara Afrika dilanda penyakit kelamin, arak, dan senapan.
    10. Tahun 1750. Seorang hamba yang berhasil membebaskan diri, kemudian melarikan diri, dan kembali ke kampung halamannya—yang hanya berpenduduk orang-orang tua dan yang lemah, yang ditinggalkan pemburu budak—bercerita bahwa: bahwa mereka dibawa selama 4 bulan. Di kapal, agar menghemat tempat, kami dirapat-rapatkan. Kaki dan tangan kami dirantai. Kami semua ada 140 orang budak, tapi kami tinggal 50 orang, karena yang lainnya mati akibat kondisi yang jelek itu. Kami ada di kapal belanda. Stelah 6 minggu berlayar, kapal Inggris mencoba menawan kami. Kami mendarat di sebuah pulau yang bernama jamaica, dan kami dijual di pasar dekat pelabuhan. Kami diperkerjakan di ladang tebu dari jam 5 pagi hingga jam 7 malam. Mandornya, penyelia atau pengawasnya, adalah orang kulit putih yang menunggang kuda, membawa rotan pemukul mengawasi kami. Di ladang Portugis yang di Brazil, tebu ditanam. Di kepulauan Karibia, dan di ladang Prancis serta Inggris di Amerika Utara, tembakau, tebu dan kapas ditanam. Budak yang mencuri, walau sedikit, dihukum mati. Budak yang tak menuruti perintah dibakar kakinya. Mereka yang mencona melarikan diri, dicari mati-matian. Kami sering memprotes keadaan tersebut. Tapi bahkan padri mendakwa mereka akan masuk neraka bila menentang keadaan tersebut. (Padahal  neraka yang mereka alami lebih buruk keadaannya) Mereka mulai berangan-angan memberontak. Sebenarnya orang-orang kulit putih takut kepada mereka, tidur pun mereka membawa senjata. Pakaian yang ditenun, dan benang yang dipintal di Inggris mendapatkan bahan mentah kapasnya dari Amerika Utara, diproduksi oleh budak-budak.
    11. Perdagangan segi tiga. Kapal-kapal merantau ke seluruh dunai dan terus menerus mendatangkan kekayaan bagi Eropa. Inilah ceritanya: Di Eropa, keuntungan dari perdgangan dan pemerasan ditanamkan dalam perusahaan pintal, tenun dan pembuatan senjata api. Kain dan senjata api merupakan barang dagangan utama yang dikirim ke Afrika. Di Afrika Barat, senjata api dan kain ditukarkan dengan budak. Kapal kemudian berlayar ke Amerika Utara dengan dimuati (penuh) dengan para budak. Di Amerika Utara, budak dijual kepada tuan-tuan yang punya ladang. Budak digunakan sebagai pekeja tanpa bayaran untuk menanam kapas, gula dan tembakau Para pedagang menggunakan uang yang mereka peroleh dari hasil menjual budak tadi untuk mengisi kapalnya dengan kapas, gula dan tembakau. Itulah mengapa kapas, gula, dan tembakau yang diangkut dengan kapal dari ladang-ladang Amerika Utara, dan dijual di Eropa—karenanya, para pedagang mendapatkan keuntungan besar.
    12. Para pedagang (kapitalis) Inggris mendapatkan bantuan dari pemerintahnya. Angkatan laut dan angkatan darat Inggris dikirim ke Amerika, Eropa, dan Asia untuk menghancurkan para pedagang (kapitalis) Spanyol, Prancis, Belanda dan Denmark. Pada pertengahan abad ke 18, mereka menguasai semua perdagangan anatar Eropa dan benua lain. Kesan kejadian tersebut bagi kapitalis sangatlah penting:
    13. Lanchashire, Inggris, 1766. Mesin pemintal dan penenun yang ada pada waktu itu terlalu lambat, padahal permintaan akan benang dan kain sedang meningkat. Kemudian kapitalis membayar akhli mesin untuk menciptakan mesin yang baru yang lebih cepat. Mesin “Spinning Jenny” selesai diciptakan tahun 1767. Tapi itu pun tak sanggup memenuhi permintaan akan benang dan kain yang terus meningkat. Mesin tenun bari diciptakan tahun 1785. Tetapi untuk membuat mesin, diperlukan besi dan arang, batu bara (sebagai bahan bakarnya). Maka diciptakanlah bahan bakar yang lebih baik: Uap. Air ditampung di pam, kemudian airnya diuapkan sehingga bisa digunakan sebagai tenaga uap untuk memukul besi. Tenaga uap juga dapat menjalankan mesin tenun dan mesin anyam.
    14. VI. Kemajuan pesat
      1. Peluit disel mesin tenaga uap menandakan permulaan zaman baru. Kebisingan kereta api dapat didengar sampai ke desa; bahkan di laut, karena kapal-kapal sekarang menggunakan mesin tenaga uap. Semua alat transportasi tersebut digunakan untk mengangkut barang-barang dagangan dari gudang-gudang kapitalis. Hiruk pikuk mesin kini terdengan di mana-mana, mesin sekarang bisa melakukan berbagai kerja. Bengkel kecil kini menjadi pabrik besar. Hasil produksi (output) pabrik semakin bertambah. Asap pabrik meliputi bumi dan langit. Ketukan pukulan-pukulan besi dapat didengar di seluruh negeri, di jembatan, di jalan raya, malah hingga ke terowongan dan gudang-gudang. Kemajuan begitu pesat. Teknologi menguasai alam. Pemantik api diciptakan pada tahun 1883; propeler, 1834; morse telegrap, 1844; fotografi, 1852; kapal terbang, 1852; pembakar listrik, lampu patrol, 1860. Inilah ungkapan kapitalis: “Kami lah kapitalis yang membawa kesejahteraan hidup kepada seluruh manusia. Aku sungguh gembira dengan pabrik dan ciptaan baru tersebut. Semuanya akan membawa kesempurnaan dan kehidupan yang lebih baik kepada insan manusia seluruhnya. Segala modal dan pengetahuan tersebut adalah hasil usaha kami.
      2. Ya, Apakah semua itu hasil usaha kapitalis? Tidak, kaum pekerja, atau buruh lah yang mengerkan semua itu. Namun bagaimana kah (kisah) hidup kaum pekerja atau buruh. Kami lah yang sebenarnya melakukan kerja. Kami lah yang dikorbankan. Jangan coba menafik atau menolak bahwa kaum pemodal telah mengorbankan kami demi kepentingannya. Tuan tanah membeli mesin dan mulai mengusahakan pertanian modern. Ladang tidak lagi memerlukan pekerja yang banyak. Kebanyakan pekerja terpaksa berhenti bekerja. Banyak yang jadi pengemis. Kami sebenarnya yang mengerjakan semua pekerjaan. Dahulu, kami bekerja sebagai petani, tukang kayu dan pandai besi. Sekarang, keadaan telah berubah. Kapitalisme membawa perubahan terhadap para tuan tanah. Mereka mengutamakan uang. Sewa tanah dinaikkan, sehingga kami tidak sanggup membayarnya. Siapa pun yang tak sanggup membayaranya, diusir dari tanah (tempat kerjanya) maupun rumahnya. Tukang-tukang kayu dan pandai besi mengalami nasib yang serupa. Semua pekerjaannya diambil alih oleh mesin. Belanja mesin lebih murah ketimbang membayar upah pekerja. Kinio beribu-ribu bekas petani dan tukang mengangur. Seolah-olah dicampakkan ke alam kosong. Menurut mereka: “Kami tidak memiliki apapun, sungguh. Kami tidak mendapatkan makanan. Kesengsaraan menggigit tulang-tulang kami.Dalam keadaan begitu, wabah penyakit mudah merebak—batuk kering dan cacar. Kemelaratan tersebut memkasa kami pergi ke kota-kota besar. Di kota, barulah kami dapat menyelamatkan diri dari maut dengan mendapatkan: kerja.” Keadaan seperti ini berlaku di semua negeri di mana kapitalisme berkembang seperti di Inggris, Prancis, Jerman, dan Denmark. Perkembangan yang sulit tersebut terus terjadi hingga sekarang.
      3. Kota-kota diselimuti oleh debu dan asap tebal. Penyakit dan penuh sesaknya penduduk. Pabrik, gudang dan bengkel semuanya terdapat di kota. Mereka terpaksa bekerja untuk kepentingan kapitalis. Mereka akan terus menindas kami hingga mati. Mereka tahu kami tak berdaya untuk melawan. Inilah kesaksian mereka:

Ellison Jack, pengangkut batu bara: umur 11 tahun. “Aku sudah tiga tahun bekerja di gudang bau bara ini. Ayahku menemaniku datang ke sini pada jam 2 pagi, dan aku pulang apada jam 1 atau jam 2 siang. Aku tidur jam 6 sore agar aku dapat bangun pagi pada esok harinya. Aku terpaksa mengangkut bakul yang berisi batu bara, menaiki empat atau lima tangga untuk sampai ke tempat penimbunan. Aku mengangkat 5 ton batu bara setiap harinya. Kadang-kadang aku dipukul jika aku tidak dapat mengangkut sebanyak itu.”

Sarah Gooder: Umur 8 tahun. “Kerjaku membuka dan menutup pintu lumbung. Aku terpaksa bekerja dalam gelap dan ini menakutkanku. Aku mulai bekerja pada jam 4 da kadang jam 3.30 pag, dan pulang pada jam 5 atau 5.30 sore. Aku tidak pernah tertidur. Aku suka bernyanyi di tempat terang dan aku takut berada di tempat gelap.” (Dikutip dari Suruhanjaya Negara, 1842)

John Smith, penenun kain: umur 42 tahun. “Aku bekerja setiap hari. Bila tiba di rumah, aku tidak dapat tidur karena terlalu letih. Itulah keadaanku setiap harinya. Aku tahu, aku tidak akan hidup lama. Hidupku tak bermakna.”

Bob Jones, pekerja pabrik: umur 18 tahun. “Kami tak diizinkan berpikir karena semuanya telah mereka pikirkan untuk kami. Mereka menghina kami. Kami dijadikan binatang yang hanya tahu bekerja. Itulah ganjaran karena mengabdi pada kapitalis.”

Anne Brown, pemintal benang: umur 23 tahun. “Aku , suamiku dan kedua anakku bekerja 15 jam sehari. Itupun tak cukup untuk membayar sewa rumah, roti dan sedikit bubur. Bila kami membantah, kami akan dimaki. Kami tak boleh hidup jika kami tak bekerja. Sekarang aku tak peduli lagi. Cukuplah dengan penderitaan ini.”

  1. Kapitalis dituduh sebagai perampok. Beratus ribu buruh seperti kami bekerja keras dengan tulang yang kurus kering, bermandikan peluh. Kami membangun jalan raya, menanam dan memanen kapas, dan mengawasi mesin. Kami melakukan segala macam kerja sehimgga kami menajdi orang yang paling diperlukan dalam masyarakat. Tapi kami tak memiliki kekuasaan atau hak untk menentukan nasib kami sendiri. Sebaliknya, pemilik-pemilik pabrik, gudang dan mesin menentukan nasib kami. Hanya mereka yang berkuasa. Mereka lah yang ,enentukan berapa cepat kami harus bekerja, bagaimana kami harus bertindak dan undang-undang yang harus kami patuhi. Mereka menentukan hidup mati kami. Dan mereka melakukan segala penindasan kepada kami, menekan dan menghisap darah kami… Seperti tuan tanah yang hidup atas keringat petani dan tukang. Kelas kapitalis membeli kesanggupan kerja para buruh sama dengan membeli mesin dan bahan mentah. (Bahan mentah adalah benda-benda seperti besi, bulu biri-biri, kayu, dan lain sebagainya. Bahan mentah digunakan untuk membauat berbagai barang.) Mereka membeli kesanggupan kerja buruh dengan upah yang mereka bayar. Upah yang mereka bayar, mungkin maham, mungkin murah, tapi yang pasti adalah: buruh tidak pernag diberi ganjaran setimpal dengan usahanya. Hanya sebagaian saja dari kerjanya yang dibayar, dan sebagian lagi tidak dibayarkan. Kelas kapitalis lah yang merampas kerja yang tidak dibayar tersebut. Para kapitais menganggap kerja yang tidak dibayar dan benda yang dicuri sepertiitu adalah keuntungan. Keuntungan yang akan dimasukkan ke dalam kantong mereka. Kapitalis menggunakan keuntungan tersebut untuk membebeli lebih banyak pabrik dan membeli lebih banyak buruh, sehingga dapat terus menerus mengambil keuntungan yang lebih banyak. Dengan cara inilah modal bertambah. Dari dahulu hingga sekarang, cara membuat untuk tak pernah berubah. Caranya adalah dengan membeli murah dan menjual mahal. Kapitalis membeli tenaga kerja buruh dengan bayaran yang rendah, sedangkan barang yang dihasilkan oleh buruh dijual dengan harga tinggi. Seberapapun keuntungannya, akan menjadi miliknya. Sekarang, rahasia mereka terbongkar, rahasia para pedagang/kapitalis dan orang-orang yang sama kelasnya dengan mereka. Di balik senyuman mesra dan pakaian mereka yang serba indah, kami tahu bahwa mereka adalah perampok yang hidup di atas usaha dan kerja orang lain. Kelas mereka lah yang berkuasa dalam masyarakat.
  2. Dan negara (termasuk pemerintah) ditentukan oleh kekuasaan meeka. Para kapitalis menggunakan cara yang sama dengan cara pedagang  untuk mengekalkan kekuasaan dan pengaruh mereka. Kapitalis merobak, menukar susunan pemerintahan lama menjadi yang baru. Maka terbentuklah pemerintahan kapitalis jerman, Italia, Austria, Jepang, dan Amerika serikat. Sekarang raja atau permaisuri tidak lagi memerintah negeri. Mereka dijadikan perhiasan atau simbol belaka. Sekarang yang memerintah adalah kelas kapitalis dan para pembela kepentingan mereka. Para hakim dan akhli-akhli hukum diwajibakan memastikan bahwa undang-undang negara akan menjamin keselamatan kepentingan kapitalis. Tentara dan polisi harus memastikan bahwa undang-undang dipatuhi. Jika para kapitalis menginginkan sesuatu di negeri lain, tentara akan dikirim untuk berperang  dan merebuit apa yang mereka inginkan
  3. VII. Tanpa kerja—tanpa gaji—tanpa makan
    1. Perindustrian dimulai di Inggris. Selama industri hanya terdapat di Inggris, mereka tidak memiliki masalah dalam memasarkan hasil produksi mereka. Malah Inggris tidak mampu memenuhi permintaan yang begitu tinggi. Bagaimanapun, pada pertemgahan tahun 1800-an, negeri-negeri lain seperti Prancis, Belgia, jerman, Amerika Serikat, pabrik-pabrik memasarkan hasil produksi mereka. Maka kapitalis mulai mengalami kesulitan menjual hasil produksi buruh mereka. Banyak barang-barang dagangan kapitalis tidak dapat dijual. Orang-orang tidak sanggup lagi memberi barang-barang tersebut, dan mereka terpaksa harus bersaing sesama mereka untuk dapat menjual. Hampir semua kapitalis berpendapat sama: “Kalau aku jual dengan harga murah, tentu orang-orang akan membelu dari aku”; kalau aku turunka  harga semua orang akan membeli dari aku”. Dan setiap kapitalis menurunkan harga serendah mungkin: Termurah; sangat murah; lelang; obral. Bagaimana pun tidak semua kapitalis mampu menurunkan harganya. Mereka yang mempunyai mesin lebih banyak dan lebih baik, yang dapat menghasilkan produksi lebih banyak dan murah, yang dapat menurunkan harga, atau menjual barangnya jauh lebih murah. Pembeli tentu menginginkan barang yang lebih murah. Banyak yang tak mampu membeli dengan harga tinggi. Mereka yang tidak mamppu menawarkan barang yang lebih murah akan hancur usahanya, bangkrut. Maka beberapa kapitalis yang bertumbangan dan keadaan ekonomi semakin buruk. Siapa kuat, dia yang selamat. Sekarang jumlah kapitalis berkurang.
    2. Kapitalis besar merasa yakin bahwa perdagangan akan berkembang seperti semula, modal akan terus bertambah, karena mereka berpikir harus membeli mesin lebih banyak, mempekerjakan buruh lebih banyak. Mereka, semua, berpikir harus bersaing di anatar mereka dengan membeli lebih banyak mesin dan mempekerjakan buruh lebih banyak. Tujuannya agar barangnya lebih baik, lebih banyak dan lebih murah, mengalahkan yang lain. Tapi, yang terjadi, berulang seperti semula: sekali lagi barang-barang yang dijual di pasar melebih permintaan karena orang tak mampu membeli. Sekarang, kapitalis mana yang akan tumbang menjadi korban.
    3. Saat-saat akhir Willy Rust. Willy Rust adalah seorang kapitalis yang tidak dapat memasarkan barang-barang produuksinya, akibat pengeluaran yang berlebihan.Sejak beberapa beberapa minggu belakangan ini, barang-barangnya tidak dapat dijual, tidak laku, dan utangnya sudah jatuh tempo. Bila tidak dapat melunasi uatangnya maka ia terpaksa harus menjual pabriknya, yang, memproduksi mesin. Ia merasa masih memiliki jalan lain, yaitu meminjam uang kembali untuk melunasi hutangnya. Maka ia berusaha meminjam uang pada bank. Ia mencoba memohon peinjaman jangka pendek untuk membayar utangnya atas pembelian biji besi kepada perusahaan Macprofit. Banyak kapitalis yang juga melakukan hal yang sama dengan Willy Trust. Pimpinan bank kemudian menelpon pemilik Macprofit dan memberitahu persoalan Willy Trust. Dan pemilik Macprofit merasa memiliki kesempatan untuk mengambil alih hak pemilikan pabrik Willy Trust. Kemudian pemilik Macprofit melakukan persekongkolan dengan pemilik bank—yaitu menolak pinjaman Willy Trust. Willy Trust gagal membayar utangnya,ia bunuh diri, dan Macprofit mengambil alih atau membeli pabriknya dari bank.
    4. Keadaan bertambah sulit bagi kapitalis—terutama bagi kapitalis kecil. Kapitalis kecil mempunya hambatan yang mengancam mereka: pemilik bank. Pemilik bank juga adalah kapitalis. Melalui usahanya, ia telah berhasil mengumpilkan banyak uang, yang kemudian dipinjamkan pada orang lain (dia mendapatkan bungan dari uang yang dipinjamkan itu). Seperti juga Willy Trust, pemilik bank juga suka meminjam uang pada kapitalis-kapitalis besar, dengan harapan bahwa kapitalis besar bisa memberikan keuntungan baginya—kapitalis besar akan mengurangi resiko. Dalam situasi persaingan, makka yang kuat dan besar saling membantu mengatasi resiko bersama. Pabtik besi dan baja, minyak dan batu bara, perusahaan-perusahaan elektrik, banyak membuat pinjaman kepada bank karena mereka memerlukan uang banyak untuk membeli mesin.
    5. Perusahaan-perusahaan besar dan bank-bank besar. Mereka bekerjasama dan saling bantu sesamanya agar menjadi lebih besar, makin lebih besara, dan lebih besar lagi, terutama perusahaan Amerika Serikat dan Jerman. Mereka memiliki pabrik-pabrik yang besar dan cakap. Mereka dapat menghasilkan barang-barang sehingga masyarakat tak mampu lagi membeli barang-barang tersebut. Kapitalis terjepit dan mereka menurunkan harganya agar barang menjadi murah dan dapat dubeli. Mereka mencari jalan lain agar harga barangnya tidak turun terus. Misalnya dengan menghemat pembelian mesin. Tapi tidak bisa, karena tidak ada lagi mesin yang harganya lebih murah; cara lainnya adalah dengan mengurangi pekerja atau buruh. Pabriknya ditutup atau dikurangi kemampuannya produksinya sebagian. Yang merugi adalah buruh, mereka kehilangan pendapatan dan daya belinya.
    6. Krisis Tahun 1873. 10 ribu, 100 ribu, berjuata-juta pekerja atau buruh di-PHK, tanpa kerja, tanpa upah, tanpa makan. Zaman malaise disebutnya, yang mulai terjadi pada tahun 1873, yang merebak ke seluruh negeri-negeri perindustrian. Malaise tidak berakhir dalam waktu yang singkat—satu tahun, dua tahun sampai lima tahun, tetap belum selesai.
    7. Kesulitan dan kesengsaraan meningkatkan semangat kaum buruh. Mereka berkumpul untuk melakukan rapat-rapat akbar. Mereka merasa lebih kuat jika mereka bersatu menentang musuh. Semangat mereka untuk menuntut keadilan kian memuncak. Mereka semuanya bersuara meluapkan perasaan masing-masing. “Golongan kapitalis mempunyai banyak barang yang tidak laku dijual, sedangkan kita kelaparan.” “Mereka menutup pabrik karena keuntungannya merosot, sedangkan kita tidak ada pekerjaan.” “Begitulah kedudukan kita sekarang.” “Apa tindakan kita sekarang.” “Kita harus memberontak.” Buruh-buruhtak bisa. Salah seorang di antara mereka yang berpakaian lebih rapi dari yang lainnya mulai berkata. “Sabar, sabar. Kita tidak perlu mengambil tindakan terburu-buru begini. Kita bisa memperbaiki keadaan ini, namun secara berangsur-angsur.” Bisikan-bisikan kecil kedengaran di antara buruh-buruh yang berkumpul itu. Mereka mencurigai sikap orang yang berpidato tadi. Seorang pekerja tambang yang masih muda lantas menyahut. “Berangsur-angsur? Kita tidak bisa menghilangkan penindasan atas kaum buruh secara berangsur-angsur. Sebaliknya kita harus menghapuskannya sama sekali segala bentuk penindasan secara menyeluruh.” Kata-kata beliau disambut dengan tepukan gemuruh. Perkumpulan pun dilanjutkan.
    8. Pada sore itu juga, para buruh berarak-arakan menuju kediaman Macprofit. Ketika itu, Macprofit sedang membaca koran yang memberitakan kebangkrutan perusahaan Inggris yang mendapatkan saingan dari luar negeri dan pemogokan-pemogokan kaum buruh. Macprofit menerima telepon yang membuatnya semakin panik. “Aku ingin memberitahu kau, bahwa tambang besi milikmu yang besar itu sudah bangkrut. Perusahaan lain sudah membeli semua tambang-tambang tersebut.” “Pranggggg” kaca jendela di belakang Macprofit pecah. Kepanikan Macprofit semakin bertambah begitu melihat ke luar jendela, ribuan buruh yang marah dan menuntut telah memenuhi halaman rumahnya. Telepon yang masih bersuara (memanggil) diabaikannya sama sekali. “Kami sudah cukup menderita!” “Keluarlah kau ke sini agar kami potong leher kau,” teriakan para buruh yang membuat Macprofit menggigil dan menghubungi polisi. Polisi berkuda pun datang dan membubarkan massa buruh dengan kekerasan dan tembakan senjata. Banyak di antara massa yang tertembak dan terluka bahkan ada yang mati. “Kami akan datang lagi. Polisi, kau bisa mengusir buruh, tapi mereka tidak akan mampu menghalangi gerakan kelas buruh seluruhnya,” demikian lah suara-suara buruh yang dialamatkan kepada Mac’profit’ membahana di antara bunyi letusan senjata api yang ditembakkan polisi. Kaum buruh mulai bersatupadu. Mereka membangun persatuan buruh dengan gerakan sosialis. Mereka menginginkan agar semua kekayaan yang dihasilkan di dalam masyarakat menjadi milik bersama. Setiap orang saling membantu satu sama lain dalam mewujudkan kehidupan yang lebih sempurna. Tapi, sebelum semuanya belum bisa dicapai, bila kapitalis tidak dihancurkan terlebih dahulu. Kaum buruh kini sudah bersiap-siap untuk berjuang sampai menang. Mereka berusaha seolah-olah saat kehancuran kapitalis sudah di depan mata!
    9. VIII. Kekayaan dunia dalam tangan segelintir orang kaya (kapitalis)
      1. Pemilik-pemilik perusahaan-perusahaan besar dan bank-bank terkemuka berkumpul untuk membicarakan rencana masa depan mereka. Persidangan diselenggarakan di Paris, Brussels, Roma, New York, St. Petersburg, Tokyo dan London. Kapitalisme harus diselamatkan, dengan cara apapun. “Dulu, hanya kami, orang-orang Inggris, yang menjalankan perusahaan. Kini, perusahaan-perusahaan dari negeri lain juga sudah berkembang. Bagaimana jadinya nanti?,” tanya  Happy Jack, sebagai moderator yang memang berasal dari Inggris ini, kepada para hadirin. “Kebanyakan perusahaan-perusahaan tersebut dikelola dengan lebih baik dan lebih kuat, tetapi sekarang perusahaan-perusahaan Inggris semakin berkurang,” Sir Edward Steel menambahkan. “Aku semalam berada di sebelah timur London, mendengarkan pembicaraan para penganggur. Aku mendengar cerita hebat dan teriakan-teriakan yang menuntut makanan, makanan, makanan,” kata Tuan Cecil Rhodes sambil menghembuskan asap cerutu. Mr. Macprofit kelihatan diam saja dengan kening berkerut. Ia berpikir, jika pabrik-pabrik terus ditutup, maka para pekerja akan merampas pabrik-pabrik tersebut dari tangan mereka. “Untuk menghindari perang saudara di Inggris, yang akan melibatkan 40 juta penduduknya, kita harus mendapatkan tanah jajahan baru yang bukan saja bisa menerima penganggur di negeri kita, malah dapat juga bisa menjamin pemasaran barang-barang pabrik dan tambang yang tidak laku dijual di sini,” lanjut Tuan Cecil Rhodes lagi. “Barang-barang yang tak dapat dijual lagi dan ancaman dari kaum buruh. Tetapi, berapa banyak orang yang memikirkan persoalan ini?” pikir Macprofit gelisah. Tiba-tiba ia menukas. “Bahan mentah! Apabila pabrik-pabrik kita pulih kembali, permintaan bahan mentah akan menjadi satu perkara penting. Bahan mentah yang sekarang tidak mencukupi,” Sir Edward Steel tak menggubris, ia seperti sedang menunggu kedatangan seseorang. “Kereta api seharusnya sudah di stasiun sekarang,” ujarnya. Tak lama kemudian. “Tuan-tuan sekalian, aku sungguh berbesar hati karena dapat memperkenalkan kepada Tuan-Tuan semua seorang jurnalis dan petualang: Henry Morton Stanley,” Steel memperkenalkan. Tampak di depan mata hadirin pria dengan penampilan mengesankan, berpakaian pelaut, berkumis dan berambut pirang dengan kulit kecoklatan karena terpanggang sinar matahari. Stanley dengan antusias berbicara kepada para ahli-ahli perdagangan yang hadir. “Aku baru saja pulang dari penjelajahan yang jauh. Satu perjalanan yang telah mengorbankan beratus nyawa manusia tapi hasilnya sangat menggembirakan. Dalam penjelajahan itu, Aku temui sebuah benua yang sedang menunggu kedatangan orang orang kulit putih. AFRIKA! Kita akan menemukan penyelesaian bagi semua masalah yang kita hadapi. Di sana, berjuta-juta manusia masih tidak berbaju. Mereka ingin membeli kain dari perusahaan-perusahaan Tuan. Tuan-Tuan bisa mengusahakan adanya kereta api, membangun jalan raya dan pertambangan di Afrika. Keadaan iklim juga sangat sesuai untuk semua jenis tanaman, getah, teh, kopi, coklat, dan bisa mendapatkan tenaga-tenaga kerja yang cukup serta murah di Afrika.” Seisi ruangan menjadi ribut. Para kapitalis berebutan melobi, menelpon, berniat berlomba-lomba ke Afrika. “Afrika sedang menunggu kedatangan kita, yang penting kita harus sampai terlebih dahulu,” terdengar pembicaraan salah seorang dari mereka yang memang dari sejak tadi berusaha menelpon lebih dahulu. “Syukurlah kita selamat,” mata mereka seakan berkata demikian.  Bodoh! Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang menghadapi kehancuran yang, memang, bisa ditunda, tapi tak bisa dielakkan. Maka, kapal-kapal pun berlayar dari Eropa dengan tujuan: AFRIKA HARUS DITAKLUKKAN!
      2. Paksaan, perbudakkan, dan penipuan yang telah dipraktekkan selama beratus-ratus tahun telah menjadikan para kapitalis Eropa kaya dan kuat di dunia. Mereka begitu kuat sehingga semakin bisa melemngkapi tentaranya. Sebuah kapal besar berlayar ke Pantai Afrika penuh dengan prajurit, meriam dan senapan.
      3. Perlawanan Afrika. Bagaimana pun, setelah ditindas selama 400 tahun, Afrika sudah bisa dipecah-pecah dan mudah ditembus. Pedagang-pedagang Eropa memecah-belah para kapitalis Afrika agar perusahaa-perusahaan mereka jangan bersatu sesamanya. Oleh karena kelebihan teknologi senjata Eropa, mereka bisa mengalahkan rakyat Afrika yang terpecah belah. Keberanian dan kepahlawanan rakyat Afrika terus menentang penjajahan dengan menumpahkan darah mereka. Suku Metabela dan Mashona bertempur menentang penjajahan dari tahun 1893-1897. Suku Ibo ikut serta sejak tahun 1900. Sedikitnya 24.000 orang korban jatuh dalam pertempuran di Sudan. Suatu pertempuran yang sengit terjadi pada tahun1887, saat kaum Zulu dikalahkan. Burundi pun dikalahkan di antara tahun-tahun 1881-1898. Suku Kilwa memberontak antara tahun1905-1906 dan mengorbankan 120.000 orang. Kaum Hereo mempertahankan diri antara tahun 1901-1906. Di Chad pun, 60.000 orang tewas dalam menentang penjajahan pada tahun 1900. Di Kamerun, kaum Yaonde berperang pada tahun 1896. Di Guinea, gerakan rakyat tidak dapat dipatahkan hingga tahun 1936. Pemberontakan di Botswana terjadi pada tahun 1895. Mesir ditundukkan pada tahun 1882. Perlawanan di Ghana, Mali, Songhai bergolak selama 20 tahun, sebelum akhirnya dapat dipatahkan, dan lain-lain. Walaupun demikian, api perlawanan meninggalkan bara yang tak dapat dipadamkan.
      4. Bumi Afrika, tahun 1882, yang dikuasai oleh para penjajah dari Eropa (Inggris, Prancis, Portugal, Spanyol, Italia, Jerman, dan Belgia), hanya di daerah-daerah pesisir saja. Dalam perebutan wilayah di Afrika, tidak jarang perusahaan-perusahaan dari negeri-negeri Eropa saling bersaing dengan hebat, bahkan seringkali dengan perang memperebutkan wilayah-wilayah jajahan di Afrika. Alhasil, pada tahun 1914 Afrika dapat dikuasai sepenuhnya dan dibagi-bagi di antara para imprealis. Inilah negeri-negeri Afrika yang dibagi-bagi di anatara mereka: Alzazair, Maroko, Kepulauan Canary, Senegal, Zambia, Guinia Prtugis, Siera Leone, Liberia, Pantai Gading, Pantai Emas, Nigeria, Kameron, Kongo, Anggola, Afrika Barat Daya, Betswana, Afrika Selatan, Rhodesia, Mozambique, Madagaskar, Tanzania, Uganda, Kenya, Ethieopia, Sudan, Mesir, Libya, dan Tunisia. Diplomat-diplomat dari berbagai negeri Eropa yang mewakili kepentingan perusahaan bertemu di Eropa untuk membagi-bagi wilayah jajahan di antara mereka. Prancis mendapatkan tanah jajahan yang paling luas, disusul oleh Inggris.
      5. Saudara-saudara pembaca, sejak kelahiran kapitalisme di Eropa banyak uang yang telah dihabiskan dalam prosesnya, banyak pula terjadi pertumpahan darah. Tentu saudara masih ingat, kapitalisme pada mulanya hadir dalam masyarakat feudal dengan membawa barang-barang dagangannya. Kapiytalisme gigih dan berusaha kuat membawa ide-ide yang baru. Kapitalisme seolah-olah membawa nafas baru (progresif, maju). Kemudian kapitalisme berhasil menguasai masyarakat.  Dahulu, tuan-tuan tanah yang berkuasa, kini kapitalis atau kaum borjuis yang memerintah; agar kapitalis bisa memerintah, perindustrian harus berkembang terlebih dahulu, dan perkembangan tersebut memerlukan uang. Bank-bank memainkan peranan yang penting dalam membantu kapitalis besar dan tangguh, agar lebih besar dan tangguh, tetapi sebaliknya mengancam pertumbuhan kapitalis-kapitalis yang kecil. Pengusaha seperti Willy Rust mati begitu saja karena bank hanya berminat memberi pinjaman kepada kapitalis yang besar dan kuat. Kapitalis besarlah yang paling berkuasa, karena kapitalis besar lah yang dapat menguasai kedua-duanya, bank dan perusahaan. Sekarang, pembaca sekalian, pembicaraan kita telah sampai pada permulaan abad ke-20, zaman yang dekat dengan zaman kita. Untuk memahami pergolakan dunia hari ini, saudara perlu mengetahui sejarahnya.
      6. Kapitalis. Di saat perusahaan-perusahaan sibuk memperluas tanah jajahannya di Afrika, para kapitalis masih terus bimbang.  “Krisis yang terjadi 20 tahun yang lalu masih terasa hingga hari ini. Hanya beberapa perusahaan besar saja yang terselamatkan. Apakah yang menyebabkan terjadinya krisis? Mengapa bisa terjadi kelebihan produksi sehingga harga turun sangat rendah? Kenapa pula terlalu banyak barang yang diproduksi sehingga banyak barang yang tidak dapat dijual,” pertanyaan-pertanyaan ini terus menghantui kapitalis. Mereka menemukan jawabannya. Jawabannya ialah: PERSAINGAN. Ya, krisis itu disebabkan oleh persaingan bebas. Dan krisis tersebut telah membawa kehancuran kepada kapitalis. Kapitalis pun menemukan ilham. Lalu, seorang kapitalis mengirimkan telegram kepada kapitalis-kapitalis lainnya yang kuat dan besar, yang isinya: “Jika krisis ini dibiarkan terus-menerus, maka pasti akan menghancurkan kita. Kita harus bersatu. Hanya cara ini saja yang akan dapat  menyelamatkan kita semua,” tulisnya. Telegram dikirimkan ke seluruh dunia, ke Eropa dan Amerika Serikat. Kapitalis-kapitalis yang menerima telegram itu pun menjawab: “Aku tidak dapat menahan keinginan awalku untuk bersaing.” “Bertanding sudah menjadi darah dagingku.” Atau,  “Aku sudah memiliki kekuasaan yang besar dan kuat. Bagaimana aku bisa bekerjasama dengan orang yang setingkat denganku?” “Mustahi cara tersebut akan berhasil.” Mereka awalnya tidak mau bersatu. Lalu, kapitalis yang menyarankan persatuan di antara mereka itu mengancam tidak akan memberikan pinjaman lagi kepada mereka yang menolak. Akhirnya mereka bersedia karena menolak persatuan artinya sama dengan bangkrut. Perusahaan-perusahaan yang selamat memulai kerja sama. Kerja sama yang sebenarnya hanya berwujud di permukaan saja, karena mereka lebih suka saling menghancurkan satu sama lain. Di semua negeri kapitalis, kaum kapitalis bekerja sama, bergandengan tangan satu dengan yang lain, untuk menghindari krisis. Para kapitalis dari seluruh dunia tersebut: K.A. Wallenberg dari Swedia, J.D. Rockfeller dari Amerika Serikat, N.M. Rothschild dari Inggris, G. Krupp dari Jerman dan C.F. Tietgen dari Denmark.
      7. Perusahaan-perusahaan pun mulai berubah bentuk menjadi kartel, oligopoli dan monopoli. “Kamilah kartel. Kami bersama-sama mengeluarkan semua jenis besi dan besi baja yang diperlukan di dalam negeri ini. Kami tidak lagi bersaing sesama kami. Kami telah sepakat untuk hanya mengeluarkan sejumlah besi yang bisa kami jual dan tidak lebih dari itu. Kapitalis adalah kawan setia kami,” kata kapitalis-kapitalis yang menggabungkan diri membentuk kartel. “Kami adalah oligopoli. Kami tidak lagi bersaing sesama kami sendiri. Kamu sudah bersepakat untuk membentuk sebuah perusahaan. Perusahaan kami menghasilkan semua barang elektronik yang diinginkan di dalam negeri ini. Kami menentukan harga yang paling tinggi untuk barang-barang tersebut dan semua orang terpaksa membeli dari kami. Kapitalis berada di pihak kami,” kata para kapitalis yang bergabung membentuk oligopoli. “Aku adalah monopoli. Aku tidak perlu bertanding. Aku sudah mengalahkan semua pihak yang bersaing dengan aku. Sekarang aku dapat menentukan berapa banyak minyak yang pantas aku keluarkan dan berapa pula harganya. Aku adalah sahabat karib kapitalis,” kata Sang Monopolis.
      8. Ini lah cara kapitalis mengatasi krisis, yakni dengan menggabungkan modal mereka. Taktik baru mencapai kejayaan. Pabrik-pabrik pulih seperti sediakala. Penganggur-penganggur kembali bekerja. Dan ada pula di antara mereka yang diberikan gaji yang lebih besar. Semua telah pulih kembali, sekarang. Bagaimanakah hal ini bisa terjadi?
      9. Dari surat kabar diperoleh jawaban bagaimana proses pemulihan krisis tersebut ternyata dengan mengorbankan Afrika:


Di Afrika, para kapitalis menjual barang-barang mereka yang tidak laku. Tapi, kebanyakan penduduk Afrika terdiri dari kaum tani. Mereka bekerja sendiri dan mempraktekkan barter  untuk memperoleh  apa yang mereka kehendaki. Mereka harus dipaksa menggunakan mata uang. Untuk maksud itu,  mereka diharuskan: MEMBAYAR PAJAK. “Kalian harus membayar pajak kepada pemerintah,” kata pemerintah. “Kami tidak ada uang,” ujar penduduk Afrika. “Kalau begitu, kalian harus bekerja pada perusahaan untuk memperoleh uang,” hardik pemerintah. Orang-orang Afrika terpaksa membayar pajak dengan menjadi buruh.

Perusahaan-perusahaan berusaha untuk mendapatkan bahan mentah yang murah untuk pabrik-pabrik mereka. Untuk itu, mereka memerlukan pekerja-pekerja di perkebunan dan di lumbung. Tapi, kebanyakan penduduk tinggal di kawasan-kawasan yang subur dan sesuai untuk pertanian. Mereka harus diusir dengan: MERAMPAS TANAHNYA. “Aku sudah membeli tanah ini, maka menjadi milikku sekarang,” kata kapitalis. “Tuan tidak boleh membeli tanah. Tanah adalah kepunyaan semua makhluk di bumi ini,” balas penduduk Afrika yang memang menjadikan tanah sebagai milik bersama. “Kau sudah melakukan pelanggaran, masuk ke kawasan tanahku. Kau harus membayar pajak,” kata kapitalis itu. “Kami tidak ada uang untuk membayar pajak,”  “Kalau begitu, kau harus keluar dari sini,” kapitalis mengusir dengan bengisnya. “Atau, kalau tak bisa bayar pajak, kau harus bekerja di tambangku atau di perkebunan milikku,” Tanah penduduk Afrika dirampas.

Perusahaan-perusahaan mengeluarkan uang untuk membangun jalan, kereta api, jembatan, rumah, pelabuhan, istana dan tambang. Tapi tak satu pun dari pembangunan tersebut yang memberi manfaat kepada kaum yang membangunnya (pekerja). Dan dengan bekerja sendiri, bercocok tanam saja, sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk sehari-hari, mengapa pula mereka  harus bekerja dengan orang asing. Penduduk Afrika harus dikerahkan: MENJADI BURUH PAKSAAN. “Kau dan kau harus bekerja pada perusahaan!” perintah kapitalis. “Kami tidak mau. Kami mau tinggal di sini untuk memanen hasil kebun kami,” petani Afrika menolak dengan keras. “Bukk, bukk, dorr, dorr,” mereka dihajar dengan pukulan dan diancam dengan senapan. “Bagaimana? Sekarang masih membangkang,” ancam kapitalis dengan kejamnya. Petani-petani Afrika tidak berani lagi bersuara. Tak ada pilihan bagi mereka selain menuruti kehendak kapitalis, karena jika tidak, sama halnya dengan menerima penyiksaan bahkan kematian. Penduduk Afrika terpaksa menjadi buruh (paksaan), atau bekerja di tanah mereka sendiri untuk kepentingan kapitalis.

Satu lagi cara mereka untuk mendapatkan pekerja dan bahan mentah dengan gratis, yakni dengan: RAMPASAN DAN PAKSAAN. “Kau diharuskan menanam kopi di ladang kau untuk perusahaan,” paksa kapitalis. “Bagaimana pula dengan makanan kami? Apa yang bisa kami makan?” Tanya penduduk Afrika. “Barangsiapa yang ingkar, tidak mau menanam kopi akan dipotong tangan dan kaki mereka,” balas kapitalis dengan ancaman.

  1. Kapitalis dan pemerintah Afrika benar-benar melakukan segala ancaman terhadap mereka yang menolak. Penduduk menjadi ketakutan dan terpaksa bekerja memenuhi kemauan kapitalis. Ini lah cerita-cerita mereka:

Assyai (49 tahun): “Pada masa yang lalu, lebih banyak orang yang tinggal di sini. Kami memiliki kebun, pertanian, serta banyak ayam dan kambing. Tetapi itu tujuh tahun yang lalu; sekarang semuanya telah hancur. Kota-kota dihancurkan, kebun dan ladang dibinasakan, ayam dan kambing kami mati. Kami sakit dan terpaksa bekerja melebihi tenaga kami, tanpa upah pula. Kami tidak ada waktu untuk bekerja di ladang kami sendiri. Kami sakit dan kelaparan. Banyak yang telah meninggal.”

Keela (23 tahun): “Daerah kami tak mampu menghasilkan produksi sebanyak yang dikehendaki oleh perusahaan. Untuk memaksa kami kerja lebih keras, mereka mengurung 50 orang perempuan dan anak-anak dalam satu rumah. Mereka dilarang keluar selagi kerja belum selesai. Mereka tidak diberi udara bersih, lampu, makanan dan air. Mereka disiksa dan kami selalu mendengar jeritan mereka sambil kami bekerja. Perusahaan memberi waktu 3 minggu untuk menghasilkan getah. Banyak di antara perempuan dan anak-anak yang meninggal.

Sita (14 tahun): “Kami tidak dibenarkan mengerjakan tanah kami sendiri. Kami bekerja keras untuk perusahaan sepanjang waktu. Kami kelaparan. Walaupun hasil yang kami hasilkan lumayan banyak tetapi makanan kami seperti sampah. Dalam tahun-tahun yang buruk, banyak petani mati kelaparan dan mayat mereka bergelimpangan di atas ladang dan jalan.”

M’Bezi (31 tahun): “Tahun lalu kering kerontang. Hasil pun merosot. Kami tidak ada biji-bijian untuk makanan. Kami makan rumput dan akar-akaran. Mereka yang tua mati kelaparan. Ramai yang meninggalkan rumah mereka dan bersembunyi di dalam hutan. Perusahaan pun memerintahkan pemburu dan prajurit-prajurit untuk mengejar mereka yang lari. Mereka bersembunyi di dalam gua-gua di mana mereka mati kelaparan.”

Kaywana (18 tahun): “Kami telah kehilangan tanah. Kami telah kehilangan lembu dan binatang ternak. Kami adalah budak bagi orang kulit putih. Kami tidak punya apa-apa, kami tak punya hak dan tak ada undang-undang.” “Jika ada orang yang membantah atau mencoba memberontak, ia akan dibunuh.

Pegawai penjajah, tanpa nama. Aku sendiri telah membunuh 150 orang. Banyak anak-anak dan perempuan dibunuh. Aku telah memotong 60 tangan dan menggantung mayat-mayat mereka di tengah-tengah kota. Sepanjang ingatanku, 1500 orang telah dibunuh di perkebunan saja,” ujar salah seorang kaki tangan penjajah, mengakui.

  1. Rasialisme. Bangsa Afrika diajarkan agar memiliki rasa hina dan rendah diri. Ilmuwan kulit putih konon katanya sudah membuktikan bahwa bangsa Afrika tidak mempunyai kecerdasan otak yang sama dengan bangsa kulit putih; konon, bangsa kulit hitam memang merupakan satu bangsa yang liar dan tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Dengan cara-cara tersebut, mengabarkan berita dan kesimpulan bohong, orang-orang kulit putih memiliki alasan untuk menindas bangsa Afrika, yang kononnya wajar dan tak berdosa. Kalian dihidupkan di muka bumi ini untuk menolong kapitalis yang sudah kaya itu menjadi lebih kaya lagi. Kapitalisme hidup di atas kemiskinan petani dan kehancuran nilai-nilai kemanusiaan. Pabrik-pabrik besar di Eropa berjalan lancar atas pemerasan dan perbudakan rakyat Afrika.
  2. Keadaan di Afrika yang telah ditaklukkan. Sebuah pemerintahan didirikan di sini. Pemerintah di Eropa telah melantik seorang Gubernur tanah jajahan. Pegawai-pegawai kulit putih dan tentara-tentara akan memastikan bahwa setiap orang membayar pajak dan mematuhi majikan perusahaan. Mereka yang menganggur dan tak punya tempat tinggal ditempatkan dalam pondok. Mereka telah diusir dari tanah mereka. Sebagian dari mereka bekerja sebagai pelayan, pekerja kebun atau penggembala, yang lain mengabdi sebagai pejabat atau sebagai polisi. Berbagai bahan mentah dibawa dengan kapal  ke perusahaan-perusahaan di Eropa. Ini lah apa yang dikatakan tanah jajahan.
  3. Imprealisme dalam bentuk kartel dan monopoli telah menguasai Afrika dan seluruh dunia. Imprealisme telah membagi dunia menjadi tiga kategori atau golongan:
    1. Imperialis, yaitu negeri kapitalis  yang memeras negeri lain untuk menggerakkan pabrik pabriknya;
    2. Tanah jajahan, yaitu kawasan-kawasan di mana kapitalis mengambil alih dan memeras dengan bantuan kerajaan.
    3. Negeri-negeri yang tergantung, yaitu negeri di mana kapitalis bisa memeras tanpa menjajah secara langsung. Misalnya: bekerjasama dengan pemerintah setempat.
    4. Bagi kapitalis, imprealisme adalah kebutuhan mereka, seperti udara di sekeliling mereka. Tanpa imprealisme, mereka akan mati. Semua bahan mentah yang bisa dibawa, akan dibawa dan diserahkan kepada perusahaan-perusahaan monopoli. Negeri kapitalis tak memiliki bahan mentah yang cukup untuk melayani keserakahan mereka. “Semua bahan-bahan mentah terpaksa dibagikan di antara kami, yakni di antara perusahaan-perusahaan raksasa,” kata kapitalis-kapitalis besar. Mereka mendapatkan bahan-bahan mentah dari negeri-negeri asing: tanah jajahan dan negeri-negeri yang bergantung kepada mereka. Pabrik-pabrik besar menghasilkan banyak barang. “Tentu kami tidak dapat memasarkan semuanya di dalam negeri kami ini. Kami harus membuat perjanjian mengenai berapa banyak barang yang dapat kami jual di sini, di negeri kami,” demikian para kapitalis melakukan berbagai perjanjian-perjanjian yang saling menguntungkan di antara mereka. Mereka memasarkan banyak barang ke tanah jajahan dan negeri-negeri yang bergantung kepada mereka. Mereka merasa sangat beruntung karena mempunyai perusahaan-perusahaan seperti itu, walau para kapitalis itu tidak dapat menanamkan keuntungan di negeri asalnya.  “Semua kesempatan penanaman modal yang ada telah direbut oleh pemodal-pemodal seperti aku,” katanya. Mereka terpaksa  menanamkan keuntungan mereka di tanah jajahan, di negeri-negeri lain yang bergantung kepada mereka.


IX. Penyelesaiannya terdapat di benua seberang, di negeri-negeri seberang

  1. Kapitalis menyelesaikan masalah-masalah mereka di tempat lain, di negeri-negeri lain. Mereka senantiasa memerlukan lebih banyak bahan mentah, lebih banyak pembeli dan pabrik-pabrik yang lebih besar untuk menambah keuntungan mereka. Bagaimanakah cara mereka mengatasi masalah ini? “Aku telah lama memikirkan masalah ini. Pabrik-pabrik kami adalah pabrik-pabrik terbesar di dunia, sedangkan tanah jajahan kita terlalu sedikit. Kami perlu memperluas tanah jajahan kami kalau ingin mempertahankan kedudukan kita,” kata Krupp, seorang kapitalis Jerman. Kapitalis Jepang dan Italia menghadapi masalah yang sama seperti kapitalis Jerman. Sayangnya, seluruh dunia telah dijajah oleh penguasa-penguasa lain. Hanya melalui perang saja mereka dapat merampas tanah jajahan dari penguasaan imperialis lain.
  2. Terjadilah perang dunia I. Negara-negara imprealis berselisih dan perang dunia meletus pada tahun 1914. Pekerja-pekerja semua negeri dikerahkan untuk berperang tanpa belas kasihan. Mereka mengira itu adalah perjuangan suci demi mempertahankan tanah air. Mereka tertipu. Kalau mereka sadar, mereka tidak rela mati membunuh sesama mereka sendiri. Kapitalis adalah musuh bersama yang patut diperangi. Pertempuran terjadi dengan hebat di darat, laut dan udara. Di darat terjadi peperangan parit. Prajurit-prajurit bersembunyi di parit untuk mengecoh dan melindungi diri dari musuh agar mudah menyerang. “Mereka memberikan kami senjata dan kami belajar cara-cara menggunakannya. Kemudian, kami tembak saudara-saudara kami sendiri, yaitu pekerja-pekerja dari negeri-negeri lain. Itulah yang diperintahkan oleh kapitalis, pengkhianat golongan pekerja,” kata para pekerja yang menyadari hal tersebut.
  3. Oktober 1917, Rakyat di Rusia berpendapat bahwa kapitalis perlu dihancurkan dengan segera. Sejak awal, mereka yakin bahwa jika mereka mau mengembalikan kekuasaan kepada tangan mereka, maka mereka membutuhkan revolusi. Pabrik-pabrik diambil-alih oleh buruh-buruh. “Mulai sekarang, kita hanya menghasilkan barang-barang yang kita perlukan saja. Kita tak perlu ragu barang-barang tidak laku karena apa yang kita hasilkan akan kita gunakan semuanya, dan sudah tentu kita mampu membelinya. Tak ada siapa pun yang akan merampas hak kita karena, mulai sekarang, segala hasil keringat kita adalah bermanfaat bagi kita sendiri. Bila kita kekurangan makanan, semua akan kekurangan makanan. Ladang dan pabrik kita akan menghasilkan cukup bahan-bahan keperluan hidup untuk setiap orang ,” kata rakyat pekerja di Rusia. Kapitalis di seluruh dunia kini mulai merasa bimbang. Kegembiraan jelas terbayang pada wajah setiap pekerja. “Masanya sudah tiba bagi kita untuk melancarkan suatu revolusi,” sorak-sorai rakyat pekerja.
  4. Pasang Surut Perdagangan Kapitalis:

1918: Perang Dunia I berakhir dengan kekalahan Jerman. Kapitalis-kapitalis lain mengambil alih jajahan Jerman. Jermas selepas perang mengalami kemerosotan perdagangan, hingga pengangguran dimana-mana. Tentara-tentara mengawasi toko-toko dan gedung-gedung perdagangan untuk mencegah para pengangguran (lapar) yang mau mencuri.

1921: Terjadi kerusuhan dan demonstarasi besar-besaran di Prancis akibat depresi    ekonomi.

1923: Di Jerman, uang tidak bernilai. Segenggam lobak di pasar berharga 15 juta Mark Jerman!

1926: Di Inggris, jutaan rakyat turun ke jalan, yang dihalau oleh polisi dengan senjata.

1929: Depresi besar (great depression). 13 juta orang menjadi pengangguran di Amerika Serikat.

1931: Di Adalen, Swedia, tentara menembak pekerja-pekerja yang berdemonstrasi dan menuntut dengan hebat di seluruh negeri. Demonstrasi di Stockholm, 30 orang buruh dibawa ke rumah sakit setelah dihajar oleh pasukan polisi berkuda.

1932: Ivan Kreuger, seorang kapitalis Swedia yang paling agung tidak dapat menyelamatkan pabriknya dari kebangkrutan. Dia kemudian bunuh diri.

1933: Hitler menjadi pemimpin Jerman. Pabrik-pabrik mengeluarkan senjata sebanyak-banyaknya. Jerman memproduksi persediaan untuk perangangan, dan begitu juga dengan negeri-negeri imprealis yang lain. Perkembangan ini memberi nafas lagi kepada dunia perdagangan.

1935: Perdagangan tidak mungkin dapat berjalan jika seperti itu terus. Suatu tindakan perlu segera diambil segera. Keadaan perdagangan Jerman tidak mempunyai tanah jajahan. Mereka tahu bahwa masalah mereka tidak mungkin dapat diselesaikan secara damai. Lalu mereka memberikan bantuan uang kepada Hitler.

  1. Perang Dunia II bergolak. Jerman, Jepang dan Italia kalah dalam Perang Dunia ke-2. Sekutu—salah satunya Uni Sovyet—berada pada pihak pemenang. Mari kita lihat perkembangan Uni Sovyet. Rakyat Rusia meramalkan bahwa revolusi akan tersebar ke seluruh benua Eropa dan mereka bersedia memberikan bantuan kepada pekerja-pekerja di sana. Pertani-petani mencoba mengusahakan tanah agar semua orang mendapat makanan, tetapi tanaman tidak memberikan hasil yang baik pada masa  itu dan makanan tidak mencukupi. Kemudian imperialis menyerang. Mereka mengirimkan agen intelejen dan mata-mata untuk bekerja sama dengan bekas-bekas kapitalis yang memusuhi para buruh. Kemudian, Uni Sovyet diserang dari luar dan, pada masa yang sama pula, perang saudara pun meletus. Banyak rakyat Rusia yang menjadi korban. Rakyat memerlukan makanan dan senjata untuk mempertahankan diri mereka. Bantuan luar tidak ada. Sebuah pabrik yang cukup besar diperlukan untuk menghasilkan senjata dan alat-alat pertanian. Tindakan harus segera diambil. Tetapi, Uni Sovyet pada tahun 1945, berbeda dengan keadaannya dibandingkan dengan Uni Sovyet pada tahun 1917. Apa yang telah terjadi terhadap Revolusi Rusia? Banyak petani yang dipaksa bekerja di pabrik-pabrik.  Para pemimpinnya tidak ada waktu untuk menjelaskan kepada rakyat mengapa tindakan itu perlu diambil. Banyak petani yang marah membakar ladang dan membunuh ternak mereka. Mereka yang membantah dipenjarakan dan dihukum berat. Dalam Perang Dunia II, Rusia sekali lagi menghadapi serangan imprealis. Beruntung imprealis tak berhasil. Sebaliknya, prajurit-prajurit Soviet telah membebaskan beberapa negeri Eropa Timur dari pendudukan NAZI dan kapitalis. Sebanyak 20 juta rakyat Soviet gugur di medan perjuangan. Setelah perang selesai, pemimpin Soviet menginginkan negeri Eropa Timur membangun satu blok yang kuat setingkat dengan blok negeri kapitalis. Dimulailah suatu persaingan yang hebat antara pihak Timur dan pihak Barat, yang disebut dengan ‘Perang Dingin’. Oleh karena negeri-negeri Eropa Timur lemah dan hancur dalam peperangan, maka pimpinan Soviet dapat memperluas pengaruhnya melalui bantuan untuk membangun kembali negeri-negeri mereka. Soviet telah berhasil membangun sebuah negeri yang kuat dari segi industri dan pertahanan. Ia merupakan negeri sosialis yang terkemuka di dunia. Di samping itu, Soviet juga telah bertahun-tahun memberi sumbangannya kepada pergerakan revolusioner di seluruh dunia, terutama di Korea dan Vietnam. Namun demikian, banyak pula yang berpendapat bahwa negeri Soviet juga mempunya kepentingannya sendiri dan selalu menggunakan gerakan pembebasan lain sebagai alat untuk mencapai kepentingannya sendiri, dan Rusia sendiri mulai berupaya seperti negeri kapitalis lainnya dalam usahanya untuk mencari kekayaan. Hanya sejarah yang dapat membuktikkan semua prasangka tersebut, tapi apa yang jelas kepada kita lihat sekarang adalah bahwa penyatuan seluruh rakyat miskin Dunia Ketiga adalah merupakan keharusan untuk mengalahkan kekuasaan imperialis.
  2. Revolusi meletus di Cina, Korea, Albania, Kuba, Vietnam, Kamboja, Laos, Guinea-Bissau, Mozambik, Angola, Nikaragua, dan Zimbambwe. Petani miskin dan pekerja mengangkat senjata berjuang untuk pembebasan mereka. Imprealis tidak mudah menyerah. Perang rakyat berkepanjangan hingga beberapa tahun. Bom dan tentara imprealis membunuh dan memusnahkan rakyat, serta menghancurkan alam dengan bomnya, demi mempertahankan  kepentingannya. Oleh karena itu, rakyat miskin haruslah bersatu dan bekerja sama. Tanpa banyak bantuan dari luar, mereka diharuskan mandiri dan akhirnya mereka berhasil mengalahkan kekuasaan imprealis.
  3. Dan mereka membangun revolusi. “Kami bangun pabrik-pabrik di desa agar rakyat tidak bertumpu pada kota saja untuk mencari pekerjaan,” kata pekerja. Dalam perundingan rakyat di lingkungan tempat tinggalnya, diputuskan “Kami telah memutuskan bahwa saudara masuk universitas dan mengambil jurusan kajian permesinan, karena saudara berminat dalam bidang itu dan saudara adalah saudara adalah kawan seperjuangan yang sungguh setia.” Banyak orang memberikan sumbangan bagi pembebasan negeri ini. Sekarang, perlu pula diawasi agar golongan pimpinan partai dan serikat pekerja, penyelenggara pemerintahan dan perusahaan, serta ahli teknik, tidak mengambil-alih kekuasaan untuk kepentingan mereka sendiri. Administratur dan pegawai pemerintah diwajibkan bekerja di pabrik dan ladang untuk beberapa waktu lamanya dalam setahun agar mereka tidak sombong dan menganggap bahwa diri mereka adalah dari golongan terbaik ketimbang kami. Univesitas dan badan-badan lain terbuka untuk semua petani dan buruh. Petani-petani tidak harus pindah ke kota-kota besar untuk bekerja. Pabrik-pabrik telah dibangun di pasar-pasar kecil dan di kampung-kampung di mana rakyat tinggal. Seperti biasa, kaum kapitalis dalam ketakutan, tapi…
  4. Rakyat di tanah-tanah jajahan gembira kapitalis sudah bisa digulingkan. Semangat nasionalis merebak ke seluruh Afrika dan Asia. Rakyat ingin menentukan nasib mereka sendiri. Cita-cita ke arah mencapai kemerdekaan mencetuskan pemberontakkan di banyak tempat. Sebagai contoh:

Di Algeria, anak-anak melakukan unjuk rasa menuntut kemerdekaan. Akhirnya rakyat merampas uang dari bank-bank untuk membeli senjata. Pemuda-pemuda yang tidak mau menjadi anggota tentara Prancis, bersatu. Satu gerakan pembebasan diorganisasikan, lalu mencetuskan pemberontakkan dalam bulan November, 1945. Tidak ada satu kekuasaan imprealis pun di dunia ini yang dapat menghalangi rakyat dari berjuang menuntut pembebasan mereka.

Di Afrika Selatan, Kaum Zulu memulai suatu pemberontakkan mereka pada 13 Januari 1949. Tiga pabrik, 700 gudang dan 1500 rumah musnah dalam pemberontakkan. Pemberontakkan ini dapat dipatahkan oleh polisi dan tentara Afrika Selatan.

Di Kenya,  Kaum Kikiyu mengawali pergerakan pembebasan mereka dari kawasan bukit lembah Kenya. Dengan menggunakan senjata, mereka berjuang untuk mendapatkan kembali tanah mereka yang diambil oleh Inggris. Imprealis tidak mau mengalah.

  1. Satu per satu, kapitalis tumbang. Keadaan ini memusingkan kapitalis-kapitalis lain di seluruh dunia. Tindakan segera perlu diambil untuk menjamin keselamatan mereka. Undangan dikirim ke seluruh dunia untuk menghubungi para kapitalis. Persidangan juga diselenggarakan. Amerika Serikat, yang menjadi pemasok senjata terbesar di dunia. Kapitalis AS merencanakan sesuatu untuk rekan-rekan mereka sesama kapitalis. “Ini adalah masalah kita bersama. Masalah hidup atau mati. Kita harus mengutamakan kelas kita dan menyingkirkan perkara-perkara lain. Kita tidak mau terus berperang sesama negara imprealis. Kita juga tidak ingin krisis ekonomi berulang kembali,” kata kapitalis dari Amerika itu. “Hentikan Revolusi!” sahut kapitalis dari Inggris. Sementara, di luar gedung pertemuan, di jalanan, jutaan rakyat pekerja di berbagai negeri sedang bergerak bersama untuk melancarkan aksi revolusi. “Jumlah kita terlalu sedikit  jika dibandingkan dengan buruh dan petani…,” kata kapitalis yang lain. “Kita perlu bersatu,” kapitalis Amerika menekankan. Persidangan-persidangan di Bonn, Tokyo dan Roma menghasilkan kata sepakat. “Kita memerlukan tanah jajahan. Semasa perang kita gagal mendapatkan tanah jajahan,” kata mereka, para kapitalis itu. “Tenanglah, kita bisa memberikan kemerdekaan kepada tanah-tanah jajahan kita itu,” saran kapitalis Amerika. “Apa!” yang lainnya tak sepakat. “Maksudku, sebelum mereka melancarkan revolusi,” kata kapitalis Amerika.
  2. Penjajah utama—Inggris, Prancis, Belanda dan Belgia—pada mulanya enggan memberikan kemerdekaan tetapi akhirnya mereka menuruti nasihat Amerika Serikat. Namun, Portugal tidak sanggup menuruti saran Amerika, sehingga terjadi pergolakan pada tahun 1974 yang menjatuhkan rezim Salazar. Kini, tumpuan gerakan ada pada perjuangan SWAPO untuk kemerdakaan Namibia yang dikuasai oleh Afrika Selatan, dan perjuangan Polisario untuk kemerdekaan Sahara Espanyol, dan perjuangan rakyat kulit hitam Azania di Afrika Selatan.
  3. “Kami mencapai kemerdakaan dalam tahun 1957,” kata rakyat Afrika. Berita ini disambut dengan gembira oleh semua lapisan masyarakat. Mereka mengadakan upacara besar. Bendera Inggris diturunkan. Pembesar Inggris juga hadir dalam upacara tersebut untuk mengucapkan selamat tinggal. Dan bendera Afrika dikibarkan. “Peristiwa ini sepatutnya menandakan tamatnya pemerasan! Kami tidak lagi dianggap sebagai tanah jajahan! Kami sudah merdeka. Lalu kami berikan nama baru kepada negeri  kami. Dulunya negeri kami dikenali oleh orang Eropa sebagai ‘Pantai Emas’. Sekarang kami menamakannya GHANA, yaitu nama negeri ini sebelum kedatangan orang kulit putih,” cerita rakyat Ghana.
  4. Saat itu, mereka sungguh gembira. Akhirnya, pemerasan dan penindasan dapat diakhiri juga. Namun, apa yang selanjutnya terjadi berlainan sama sekali dengan apa yang mereka harapkan. Hampir seluruh penduduk negeri ini terdiri dari petani. Kebanyakan dari mereka menanam coklat dan menjualnya kepada perusahaan. Dahulu, mereka dipaksa menanam coklat. Sekarang, sesudah merdeka, mereka berharap akan dapat menambah hasil penjualan mereka. Mereka hidup dalam kemiskinan karena uang dari penjualan coklat yang sampai ke tangan mereka sangat kecil. Pemerintah mencoba menaikkan harga, tapi usaha ini juga gagal. “Kalau kami meminta harga tinggi, perusahaan-perusahaan tidak mau membeli coklat kami. Jadi, kami terpaksa menjual dengan harga rendah. Kami terpaksa menjualnya juga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Harga coklat bukan saja tidak meningkat, malah sejak merdeka semakin menurun. Kehidupan kami tidak bertambah baik, seperti diharapkan, tetapi sebaliknya menjadi semakin melarat,” kata petani Afrika. Tidak ada kemajuan yang dicapai sejak merdeka dan rakyat tidak dapat menahan kesabarannya. Dalam tahun 1961, mogok besar-besaran terjadi setelah kapoitalis menurunkan gaji buruh di kota. Mogok telah dilancarkan di Sekondi, Takoradi, Kumasi, dan Accra. Buruh pembuat besi, buruh pelabuhan, penjaga toko, termasuk perempuan yang berjualan di pasar, semua berhenti bekerja. Pemerintah menjalankan berbagai usaha untuk menarik mereka agar kembali bekerja. Setelah lebih dari tiga minggu para pekerja yang mogok ini terpaksa juga kembali bekerja untuk mencari nafkah hidup. Makanan dan uang tabungan mereka sudah habis. Pimpinan-pimpinan yang bertanggung jawab melancarkan pemogokkan itu dihukum penjara. Presiden, dalam pidatonya melalui radio, telah menasihatkan mereka untuk tenang. “Negara dalam keadaan huru-hara. Kita, janganlah memikirkan kepentingan sendiri, tetapi haruslah mengabdi untuk negara.” Bicara memang gampang, apa lagi bagi seorang presiden yang tinggal di rumah berhawa dingin dan mempunyai mobil besar.  “Para pejabat tidak memahami cara hidup kita yang sebenarnya. Kebanyakan dari mereka lulusan sekolah Inggris dan banyak yang telah belajar undang-undang di Universitas. Mereka lebih menyerupai orang kulit putih daripada orang Afrika.”
  5. “Negeri kami seharusnya kaya dan makmur. Kami seharusnya mempunyai pabrik-pabrik sendiri. Tidak seorang pun harus kelaparan lagi. Kita harus memiliki cukup sekolah dan rumah sakit untuk memberi penghidupan kepada setiap penduduk. Kapankah harapan ini akan tercapai? Dan hari ini pun, kami masih terus bekerja untuk perusahaan. Tidak ada bedanya di antara dulu dengan sekarang,” kata rakyat Afrika.
  6. Sebaliknya pemerintah telah meminta lebih banyak lagi perusahaan asing menanamkan modalnya di sini. Sekarang bukan saja Inggris yang menanamkan modalnya, malah terdapat juga Jerman dan Amerika Serikat. Menurut pemerintah, keadaan akan bertambah baik jika lebih banyak perusahaan asing yang menanamkan modal di sini. Kita semua sangat paham mengenai akibat buruk yang dibawa oleh perusahaan asing kepada kita, tetapi golongan kaya mendapatkan keuntungan yang lumayan dari penanaman itu.
  7. Pada tanggal 26 Februari, 1966, radio mengumumkan pembentukan sebuah negara baru di bawah pimpinan presiden baru pula. Pemerintahan lama telah digulingkan. Pihak tentara telah mengambi-alih pemerintahan dan berjanji akan menghapuskan segala bentuk praktek yang tidak adil. Kebanyakan rakyat menyambut berita ini dengan perasaa gembira. Ini merupakan berita baik. Rakyat menunggu perubahan yang dijanjikan itu dengan penuh kesabaran, tapi keadaan tidak bertambah baik. Semuanya sama seperti dulu juga. Semuannya bohong belaka. Negara tidak didirikan untuk memenuhi kebutuhan rakyat, tetapi didirikan untuk kepentingan perusahaan. “Kami tahu ini salah, tapi apa yang bisa kami perbuat? Kebanyakan dari kami tidak bisa menulis dan membaca. Bagaimana kami dapat mengubah keadaan?”
  8. Cerita tentang sebuah negeri berkembang. Ini adalah sebuah negeri yang sedang membangun, sebuah negeri bekas tanah jajahan, yang kini sudah mempunyai pemerintahan sendiri, bendera dan lagu kebangsaan sendiri. Akan tetapi, negeri ini masih dikuasai oleh imperialis. Bahan-bahan mentah yang dihasilkan oleh negeri ini diangkut dari pertambangan dan perkebunan serta dibawa ke pabrik-pabrik besar yang senantiasa memerlukan bahan mentah. Perusahaan-perusahaan membeli bahan mentah dengan harga murah. Di pabrik-pabrik milik kapitalis, bahan-bahan mentah tersebut dijadikan barang-barang pabrik. barang-barang tersebut akan dijual kembali kepada negeri-negeri yang sedang membangun atau atau negeri imprealis lain dengan harga yang tinggi.
  9. Satu kelas baru, yaitu kelas menengah Afrika, telah mulai ada di kota-kota Afrika. Mereka yang digolongkan ke dalam kelas ini, termasuk pegawai pemerintah, birokrat, pegawai, profesor universitas dan pegawai lain yang mempunyai taraf hidup yang lebih tinggi dari rakyat kecil. Adalah menjadi tanggung jawab kelas menengah untuk memperhatikan agar semua kehendak imprealis dipenuhi—mereka selalu bisa mendapatkan bahan mentah dengan harga murah, agar mereka bisa mengangkut keuntungan besar yang diperoleh dari negeri ini ke luar negeri, ke negeri imperialis tanpa hambatan. Selagi imperialis dibenarkan mencuri kekayaan negeri-negeri yang sedang berkembang, saat inilah rakyat bertambah miskin dan papa.
  10. Akhirnya, pemerintahan yang sedang membangun akan berhutang kepada negeri imprealis karena pinjaman dan bantuan yang diberikan untuk pembangunan sekolah, rumah sakit, dan fasilitas lain yang diperlukan oleh rakyat. Namun, pengangguran, kemiskinan dan kelaparan tidak juga bias dihapuskan. Kaum kapitalis memberikan kebebasan kepada rakyatnya dengan satu tangannya tapi, dengan tangan lainnya, mencengkram mereka. Beginilah keadaan imprealisme hari ini:
  11. Kapitalis  bisa menindas dan memeras orang lain untuk mendapatkan keuntungan. Melalui penipuan, keganasan dan kekejaman, mereka merampas hasil usaha berjuta-juta umat manusia dan memusnahkan kehidupan mereka. Kapitalis tidak pernah puas. Setiap hari mereka berusaha mendapatkan buruh murah, bahan-bahan mentah yang lebih murah dan apa-apa saja yang bisa mendatangkan keuntungan. Mereka menggunakan kapal terbang pembom, kendaraan anti peluru dan tentara untuk membunuh siapa saja yang berusaha menuntut hak agar kekayaan di dunia ini dibagikan dengan adil kepada seluruh penduduk, di Vietnam, Laos, Angola, India, Palestina, Bolivia, Uruguay, Filipina, Amerika Serikat, Ethiopia, Mozambique, Republik Dominika, Yunani, Indonesia, dan lain-lainnya. Sekarang mari kita melihat keadaan negeri imprealis yang terkemuka di dunia, yaitu Amerika Serikat.
  12. “Kami berempat mengunjungi di suatu daerah pedalaman yang terdapat pepohonan, danau, dan juga jalan raya dengan kendaraannya hilir mudik. Kawasan hutan tersebut terlalu kosong dan terpencil. Kami bertanya-tanya apakah bencana yang telah menimpa penduduk, yang pernah bercocok tanam, yang tinggal di kebun-kebun kecil dan kota-kota kecil di daerah ini.”
  13. “Kemudian, kami temui pula sebuah kota besar yang dipenuhi manusia, kendaraan dan juga penjahat. Pemandangannya tidak begitu menarik minat kami, namun kami singgah juga di sini. Di sini, kami bertemu dengan seorang kapitalis yang benar-benar sama saja dengan kapitalis-kapitalis lain yang pernah kami temui.” “Selamat datang, selamat datang,” katanya. “Ada yang bisa aku bantu untuk kalian semua?” Kami menerangkan bahwa kami hanya ingin menyaksikan kehidupan di Amerika saat ini. Lalu dia membawa kami berjalan-jalan di kota. “Aku pantas mengatakan bahwa Amerika adalah negeri terkaya dunia. Rakyatnya hidup aman dan makmur,” ujarnya. “Tidakkah Amerika kalah dalam perang Vietnam?” Kami sudah sampai. Dia membawa kami ke warung kopi. “Negeri kami mencintai keamanan. Tapi kami harus juga mengawasi kepentingan kami di luar negeri. Kami tahu bahwa kami mempertaruhkan nyawa prajurit-prajurit kami di negeri-negeri yang tidak mau mempertahankan diri mereka sendiri dan itu, ternyata, adalah suatu usaha yang sia-sia. Namun, bagaimana pun, kami masih juga berusaha,” terangnya. Dia terus saja berbicara. Kami mengikuti dia memasuki warung kopi. Dia mempersilahkan kami memilih makanan dan minuman yang kami inginkan. Bermacam-macam roti, kue dan kopi dijual di tempat ini. Semuanya kelihatan enak, kami bisa melihatnya dengan jelas dari balik kaca. “Bagaimana caranya?” tanya kami. “Kita hanya memerlukan beberapa orang agen CIA (intelejen Amerika) yang cakap dan dengan langkah diplomasi yang lain, disertai dengan bantuan keuangan untuk tentara  agar menjaga keamanan di negeri-negeri sahabat,” katanya, sambil membayar di kasir, uangnya sangat banyak. “Dalam keadaan tertentu, kami juga mengirimkan tentara,” setelah membayar, dia membawa makanan dengan nampan ke meja hadapan kami. Dia duduk, menyeruput kopi dan melanjutkan bicara. “Kita perlu banyak kawan di luar negeri. Mereka seperti udara untuk bernafas, tanpa mereka kita mati.”  Kami meminum kopi kami dan terus memperhatikannya bicara. “Sekarang ini, kami tidak mempunya tanah jajahan. Sebagai gantinya, kami mempunyai negeri-negeri yang dikenal sebagai negeri-negeri berkembang. Tentu sekali, kita semua menginginkan keadaan di mana seluruh manusia cukup makan dan kebutuhan lain-lainnya untuk diri mereka. Bagaimanapun, kita harus mengutamakan diri kami sendiri,” ujar kapitalis itu, sambil menyalakan rokok. “Agar kita bisa bersaing dalam pasar dunia, kami terpaksa membeli dengan harga mudah di satu tempat, yaitu di negeri-negeri yang sedang berkembang karena upah buruh di sana, murah.” Kapitalis itu menyudahi acara minum kopi dan mengajak kami pergi ke tempat lain. Dia terus saja bicara  sambil berjalan. “Kemana lagi perusahaan-perusahaan kami yang besar-besar akan pergi kalau tidak ke negeri-negeri yang sedang berkembang, yang sedang membangun. Pemerintah Amerika membantu pergerakan dan pemerintahan tangan besi seperti di Filipina, Pakistan, Korea Selatan, Brazil dan Spanyol.”
  14. Kami melangkahkan kaki di trotoar salah satu jalan di Amerika, di mana-mana yang terlihat adalah manusia yang sibuk lalu lalang, papan reklame dari ukuran paling kecil sampai yang paling raksasa. Kami juga menyaksikan buruh-buruh bangunan yang sedang sibuk mendirikan gedung berpuluh-puluh lantai. “Kalau kami tidak memanfaatkan keadaan di negerri-negeri yang sedang membangun, perusahaan-perusahaan kami mungkin terpaksa ditutup, beribu-ribu pekerja akan kehilangan pekerjaan,” dia berbicara sambil menoleh ke belakang, ke arah kami, dengan memperlihatkan senyuman licik. Akh, dasar kapitalis. Jadi, orang-orang di sini hidup di atas titik-titik keringat orang-orang miskin yang bekerja di negeri-negeri lain, pikir kami muram. Ini adalah suatu keadaan yang sangat menyedihkan. “Jumlah buruh terlalu banyak, sedangkan jumlah kapitalis sangat kecil. Tidakkah anda khawatir pada suatu hari nanti buruh-buruh akan merebut kekuasaan?” tanya salah seorang di antara kami. “Kami tak perlu terlalu yakin dengan perkara seperti itu,” dia melirik kami, lagi-lagi dengan senyumannya yang licik. Dia lantas melanjutkan, “tetapi, selagi mereka masih percaya kepada kepala negara, saat itulah pemberontakkan tidak akan terjadi.”
  15. Kami terus mengikuti langkah kakinya untuk mendengarkan keterangan-keterangan yang lebih banyak lagi tentang kebusukan kapitalisme. “Kami selalu menyelenggarakan pertemuan secara rutin dengan kapitalis, ahli-ahli ekonomi dan pejabat pemerintah lainnya. Kami mempunyai hubungan yang dekat.” “Tapi bukankah pemerintahan yang membuat keputusan?” tanya  kami keheranan. “Tidak,…. karena kami, kapitalis, yang sebenarnya berkuasa.” Kali ini dia benar-benar tersenyum dengan lebarnya. Kami berpapasan dengan polisi-polisi yang sedang menjaga bank. “Kami yang memiliki segalanya, maka kamilah yang menentukan kebijakan apa yang harus dikeluarkan dan produksi apa yang harus dihasilkan. Kalau buruh bekerja cepat, gaji mereka akan ditambah,” matanya memandang melalui kaca ke dalam toko yang kami lewati. Di dalam toko itu, buruh-buruh yang kebanyakan perempuan sedang bekerja. “Negara hanya bertugas membantu kami dalam mendapatkan lebih banyak untung. Negara juga menyediakan kemudahan dan jaminan social, serta sedikit perubahan untuk memupuk kepercayaan rakyat kepada negara. Juga melatih anak-anak muda di sekolah agar apabila mereka tamat sekolah akan menjadi buruh yang terampil. Yang penting ialah: segala yang kami rencanakan berjalan lancar.” Kami jadi tahu, negara sebenarnya berada di pihak siapa, ternyata: di pihak kelas kapitalis!
  16. Perjalanan kami sampai di tempat yang sangat ramai, mall, pusat perbelanjaan yang menjadi pasar. Mall dipenuhi teriakan orang-orang yang menawarkan barang-barang. Banyak orang yang membeli karena harus memenuhi kebutuhan mereka. Bermacam cara digunakan untuk menarik pembeli, di antaranya diskon, beli dua gratis satu dan banyak lagi, bahkan sampai ada yang menawarkan diskon 50%. Barang-barang memang sangat banyak dan melimpah: pakaian, kaus kaki, beras, buah-buahan, minyak wangi, barang-barang keramik, elektronik, bermacam-macam lagi banyaknya. Kapitalis itu kelihatan sangat bahagia menyaksikan aktivitas di Mall.
  17. Ia lalu mengajak kami menaiki tangga eskalator, salah satu capaian teknologi modern. Dan terus bicara. “Perusahaan-perusahaan besar kami menghasilkan barang-barang yang sudah tentu dapat pasaran. Jika barang-barang ini tidak dapat dijual maka, terjadilah…,” ia menjejakkan kaki di ujung tangga escalator, “ KRISIS,” ucapnya dengan suara yang agak gemetaran. Terlihat perubahan air mukanya yang nampak seperti bingung, dan suaranya pun mulai meninggi.  “Orang-orang akan membeli barang-barang kami, seperti baju, selimut, lipstik, kaus kaki, rumah, mobil, penyubur rambut…,” dia sudah mulai tidak terkontrol, suaranya makin meninggi dan kedua tangannya diangkat ke atas. Orang-orang di mall memperhatikan ulahnya. Kami menjadi agak malu. “…Rokok, mobil, gas, tirai, AC, alat-alat listrik, krupuk, pasta gigi, kertas, televisi, sepeda motor, mainan kanak-kanak, pulpen,” dia menyemburkan nama berbagai jenis barang dengan berteriak. Kami jadi menutup telinga dibuatnya dan melarikan diri.
  18. Kami meninggalkan dia yang sudah mulai meracau karena ia teringat krisis. Kami berempat berjalan-jalan tanpa suatu tujuan tertentu. Apa yang kami dengar dan kami lihat membuat kami merasa kurang senang. Kami merasa seolah-olah kami senantiasa dikejar oleh kapitalis ke mana saja kami pergi. Di hutan rimba Afrika atau pun di gedung-gedung besar di Amerika, kami tidak mungkin dapat melepaskan diri dari keganasan dan penipuan kapitalis.
  19. Kami tiba di sebuah pabrik. Kami membuka pintu dan mengintip ke dalamnya. Beruntung, tak ada penjaga, kami bisa masuk ke dalam pabrik dan ingin berbincang-bincang dengan salah seorang buruh di sini. Para buruh duduk dalam sebuah ruangan yang besar dan bising. Kami menunggu hingga tiba jam istirahat agar kami bisa masuk dan berbincang dengan mereka. Ini lah pengalaman-pengalaman buruh-buruh yang terpaksa menjual dirinya pada kapitalis.

En. Z :

“Radioku membantu membangunkan aku pada pukul 6, setiap pagi. Aku tidak langsung bangun. Aku berbaring dulu sambil mendengar berita di radio. Kira-kira 15 menit kemudian, barulah aku bangun dan mandi. Untuk sarapan pagi, biasanya aku minum segelas besar kopi untuk menahan kantuk, beberapa butir telur dan daging. Aku membangunkan isteriku, antara jam 6.30 dan 7.00 pagi. Isteriku pun bekerja. Kami berdua harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aku bekerja di pabrik perakitan barang-barang elektronik. Aku harus tiba di tempat kerja tepat pukul 8.00. Kalau tidak, gajiku pada hari itu bisa dipotong. Di pabrik, aku akan diberikan beberapa kotak sirkuit elektronik untuk diuji. Bagianku bekerja 24 jam sehari. Aku menyambungkan sirkuit elektronik ini ke sebuah alat komputer yang akan mendeteksi sirkuit-sirkuit yang rusak. Sirkuit-sirkuit yang rusak akan aku singkirkan ke sebelah sini, dan ini akan diambil pada waktu tertentu. Aku tidak mau berpikir apa yang aku kerjakan setiap hari. Kalau aku pikirkan, aku mungkin jadi gila—kerja ini sungguh membosankan. Perusahaan banyak mengambil buruh perempuan dari Meksiko. Dulu, mereka melakukan pergerakan, persatuan. Akibatnya, sebuah perusahaan ditutup dan dipindahkan ke Puerto Rico karena buruh-buruh  di situ mengambil tindakan yang, sebenarnya sesauai dengan peraturan. Sekarang, persatuan sudah tidak ada lagi karena buruh-buruh takut kehilangan pekerjaan mereka. Jumlah pengangguran di kota ini telah naik sebesar 87,2% karena banyak orang luar datang ke sini untuk mencari pekerjaan. Aku sekarang berumur 50 tahun. Aku pernah bekerja di pabrik pembuat kapal terbang. Aku bekerja di sana selama 29 tahun. Kemudian mereka memberhentikan aku, satu tahun sebelum aku layak menerima pensiun.”

Kami meninggalkan pabrik tersebut dan pergi ke seberang jalan, ke sebuah warung kopi. Di sini kami mengobrol dengan seorang pelayan warung kopi tersebut, yakni:

Nyonya P:

“Ini adalah warung yang paling murah di kota ini. Aku mendapatkan upah sebanyak $ 1.25 sejam tanpa uang makan. Aku mendapatkan $ 2.00 sejam dari pemberian tip. Aku bekerja giliran saat sarapan pagi dan tengah hari, yaitu dari pukul 1 pagi hingga pukul 2 sore. Tempat ini sungguh sibuk dengan pelanggan dan kadang kala mereka terpaksa menunggu. Manajer senantiasa mengawasi pekerjaan kami. Selepas kerja, aku mengambil anakku pulang dari sekolah. Aku pulang ke rumah dan kemudian aku atau anakku menyediakan makan malam. Di malam hari, aku merasa sangat letih, tambahan pula dengan anak-anak yang nakal. Rumah sewaan kami juga terlalu sempit. Beberapa waktu yang lalu, tuan pemilik rumah tempat kami tinggal berusaha menaikkan sewa sebanyak $50.00 sebulan. Kami membantah. Kami beramai-ramai mengorganisasikan suatu persatuan penyewa rumah dan kemudian membawa perkara ini ke pengadilan. Tuan rumah ini menggandeng sebuah perusahaan pengembang perumahan. Oleh karena perusahaan mereka tidak memperbaiki kerusakan, maka mereka kalah dalam perundingan di pengadilan. Tapi baru-baru ini, aku mendengar mereka ingin memberikan gedung ini untuk dijadikan gedung perkantoran. Jadi, orang-orang miskin akan diusir keluar dan digantikan dengan kantor-kantor perusahaan kaya. Dengan cara ini, mereka akan memperoleh lebih banyak untung.”

  1. Seluruh kekayaan dunia dikuasai oleh segelintir manusia. Inilah dunia, yang digenggam oleh tangan-tangan segelintir kapitalis. Perusahaan-perusahaan besar yang memproduksi berbagai barang-barang dan jasa-jasa kebutuhan manusia dikuasai oleh segelintir kapitalis. Mereka tak bekerja, mereka seperti dalang yang memainkan boneka-boneka. Mereka mengontrol jalannya perusahaan dalam berproduksi dan menyalurkannya. Tak ada yang tak dimiliki kapitalis. Ilmu pengetahuan, teknologi, kesehatan, segala jenis barang dan jasa. Mereka bisa membuat orang saling berkelahi untuk memperebutkan kekayaan, mereka bisa membuat negeri-negeri saling berperang. Para pemimpin negara berlomba-lomba dan saling berebutan menjadi kaki tangan kapitalis. Mereka berada pada posisi paling di atas, memandang ke bawah dan menggenggam dunia. Sementara para pekerja dan rakyat miskin memikul beban yang diberikan oleh kapitalis. Para buruh dipekerjakan di pabrik-pabrik dan menghasilkan kekayaan yang miliki oleh kapitalis. Buruh berada pada posisi yang paling bawah, menanggung beban yang sangat berat.
  2. Penaklukkan Puerto Rico.

Menurut Negara Amerika Serikat: Para penduduk Puerto Rico tinggal di kawasan-kawasan pemukiman sempit yang tidak teratur. Mereka bertani sekadar cukup untuk hidup saja. Pemerintahan Spanyol sengaja tidak mau membangun tanah jajahannya. Bagi Spanyol, Puerto Rico hanya penting dari segi pertahanan saja, karena kedudukan Puerto Rico yang menjadi pintu masuk ke tanah-tanah jajahan Spanyol yang lain di Amerika Latin. Karenanya, tidak heran jika rakyat Puerto Rico, yang kebanyakan bukan penduduk keturunan Spanyol, mendukung penuh segala usaha untuk mengakhiri pemerintahan Spanyol di sana.

Pendapat Gereja Protestan: “Tujuan akhir Republik ini adalah untuk menghancurkan pemerintahan Spanyol di benua Amerika. Untuk mencapai tujuan tersebut, Amerika Serikat haruslah bersedia menjajah Kuba, Puerto Rico, Filipina atau, jika perlu, Spanyol sendiri. Amerika tentu sangat bersedia melakukannya.” (Rev. J.F. Carson)

Seorang Perwira Angkatan Laut AS, berkata: “Kami  harus menjadikan negeri ini negeri yang terkemuka di dunia. Sebuah negeri yang mempunyai kekuatan angkatan laut terbesar sehingga dapat menguasai terusan-terusan yang utama. Negeri yang memiliki pangkalan-pangkalan tentara laut di Lautan Pasifik dan Atlantik, dan negeri yang mempunyai hubungan perdagangan yang teguh, sekelas dengan penguasa-penguasa lain di Lautan Pasifik dan Timur Jauh.” (Kapten Alfred Mahan)

Golongan Intelektual juga berkata: “Upaya yang telah dimulai oleh bangsa Inggris, yakni ketika mereka menaklukkan Amerika Utara, perlu diteruskan sehingga setiap kawasan di muka bumi ini, yang belum beradab akan menerima sifat Barat baik dari segi bahasa, agama, politik dan tradisi.” (John Fiske, Sejarahwan)

Golongan Kapitalis berkata: “Pabrik-pabrik di Amerika menghasilkan terlalu banyak barang sehingga melebihi kebutuhan rakyat Amerika. Kami harus mendirikan pusat-pusat perdagangan di seluruh dunia, yang akan menjadi pusat penjualan barang-barang kebutuhan buatan Amerika.” (Albert Beveridge, Senator dan Usahawan).

Dan pemerintah juga berkata: “Kedatangan kami ke Puerto Rico bukanlah bertujuan memerangi rakyat negeri ini yang telah menjadi mabngsa pemerasan sejak berabad-abad lamanya. Kami datang untuk memberikan perlindungan kepada kalian dan harta benda kalian. Kami datang membawa kemakmuran kepada negeri ini; kemakmuran yang akan diperoleh sebagai hasil dari pemerintahan liberal yang dipraktekkan oleh negeri kami.” (Jeneral Miles, Panglima Tentara Amerika Serikat yang menaklukkan Puerto Rico)

Rakyat berkata: “Tapi kami ditipu. Kami bekerja untuk kepentingan kapitalis Amerika Serikat. Semua industri perdagangan dan pertanian di negeri kami dimonopoli oleh kapitalis Amerika. Kemakmuran yang mereka janjikan itu telah menjadi penindasan.” (Rakyat Puerto Rico)

Penderitaan rakyat Puerto Rico dikisahkan oleh kapitalis Amerika Serikat sebagai kisah Kejayaan Puerto Rico:

“Anda juga bisa merasakan semua pengalaman manis yang pernah dinikmati oleh para pengusaha lain di Puerto Rico. Anda bisa mendapatkan untung yang lebih besar. Semua keuntungan yang anda dapatkan akan menjadi milik anda sepenuhnya. Anda bisa memperoleh sebanyak apapun buruh yang anda inginkan—dengan jumlah upah yang telah ditentukan. Anda akan dapat menjalankan bisnis anda dengan penuh keyakinan, karena di sinilah satu-satunya tempat di dunia ini yang menjadi tanah jajahan Amerika Serikat masa kini. Barang-barang produksi anda akan dijual di pasar Amerika Serikat tanpa dikenakan sedikit pun pajak. Pengusaha akan dapat menikmati 100% keuntungan tanpa pajak untuk barang-barang produksi mereka selama 30 tahun. Melihat banyaknya halangan dan rintangan yang dihadapi oleh para pengusaha pada hari ini, seperti naik turunnya nilai uang, inflasi, kedudukan ekonomi yang tidak stabil serta persaingan yang begitu hebat, maka aku berpendapat bahwa adalah sangat baik bila anda sekalian mempertimbangkan manfaat-manfaat yang disediakan di Puerto Rico. Kami pikir tidak ada tempat lain yang dapat menandingi Puerto Rico.” (Kapitalis Amerika)

Puerto Rico tergadaikan. Pabrik-pabrik dan pertambangan berdiri di seluruh penjuru negeri Puerto Rico, mesin-mesin didatangkan dan kawasan pertambangan diberikan kepada kapitalis. Rakyat Puerto Rico bekerja demi kepentingan kapitalis yang kebanyakan dari Amerika Serikat. Berbagai barang dan jasa dihasilkan. Pencemaran lingkungan terjadi di mana-mana. Pertumbuhan ekonomi Puerto Rico yang sungguh cemerlang dan tidak terduga menjadi idaman semua negeri-negeri berkembang yang lain di dunia. Ini juga menjadi suatu kebanggaan bagi Amerika Serikat.

  1. Kaum kapitalis membangun kota-kota besar. Pabrik-pabrik, kantor-kantor dan lain-lain jenis kegiatan perdagangan, semuanya mebuat kota-kota besar lebih sesak. Para buruh di kota bekerja untuk kepentingan kelas kapitalis. Mereka juga membeli barang-barang produksi kapitalis.  Di sekeliling kota-kota besar tersebut, didirikan pula rumah-rumah petak sebagai tempat tinggal para buruh. Mereka senang tinggal di rumah-rumah seperti itu hanya karena berdekatan dengan tempat kerja mereka. Semua bangunan rumah petak tersebut adalah miliki kapitalis. Rumah-rumah petak tersebut merupakan barang yang bisa disewakan kepada golongan buruh oleh para pemodal yang memilikinya. Bangunan rumah petak dibuat dari bahan-bahan yang murah. Golongan kapitalis mempunyai kekuasaan penuh dalam menentukan harga sewa, yang terpaksa harus dibayar oleh para buruh yang menyewanya. Kerja Kapitalis: rumah petak yang dibangun dengan harga murah, disewakan dengan harga tinggi sehingga untungnya besar.
  2. Di tengah-tengah kota, terdapat bank, hotel dan toko-toko besar. Begitu juga dengan pengacara, Tuan Pemilik Kapal, dan perusahaan-perusahaan. Masing-masing memiliki kantor sendiri di tengah-tengah kota, karena kawasan inilah yang menjadi pusat keramaian. Mereka mengunjungi kawasan ini beramai-ramai hendak membeli barang-barang produksi kapitalis, mengunjungi bank-bank kapitalis, atau tinggal di hotel-hotel milik kapitalis. Gedung-gedung  yang dibangun terlalu tinggi dan terlalu rapat dari yang seharusnya, karena pihak yang menata kota ingin memastikan bahwa kelas kapitalis memperoleh keuntungan yang besar.
  3. Cerita Sebuah Hotel. Empat orang kaya berunding—mereka adalah direktur perusahaan penerbangan, pimpinan perusahaan property (perumahan), dan seorang arsitek terkenal yang berjumpa dengan seorang manajer bank. “Hotel sangat menguntungkan,” kata direktur perusahaan penerbangan. “Hotel itu haruslah besar,” tanggap si Arsitek. “Di tengah-tengah kota,” ujar pimpinan perusahaan properti. “Aku tahu di mana ada tanah yang murah,” kata pegawai bank yang memang banyak tahu soal tanah, karena orang-orang sering menjaminkan tanahnya ketika meminjam uang di banknya. Dia pun menelpon. “Walikota, kami telah mendirikan perusahaan perhotelan. Kami ingin membangun hotel di tanah Dewan Kota. Bisa?” “Tanah itu dekat dengan rumah petak. Orang-orang di situ menginginkan dibangun sekolah dan taman. Tidak adakah tempat yang lainnya?” “Sebenarnya ada di kota lain. Tapi sayang sekali, lahan itu sangat sesuai untuk membangun hotel. Benar, kan?” “Ya, tapi tidak adakah lahan lain?” “Tidak ada, hanya itu saja yang cocok.”

“Akhirnya, tanah itu dibangun juga. Syukurlah, sekarang taman dan sekolah akan dibangun,” kata seorang warga sambil memandangi tanah yang sekarang sedang dikeruk Buldozer. “Bukan, hotel yang akan dibangun di sana,” balas kawannya. “Hotel? Sekolah dan taman tidak bisa dibangun. Nanti cahaya dan udara akan berkurang. Alangkah bodohnya, Kita harus protes!” Warga yang menginginkan pembangunan sekolah dan taman mengajukan protes. Ratusan lembar surat protes dilayangkan kepada Walikota.

“Apa ini? Protes dari warga. Mereka itu bodoh!” kata Walikota yang banyak sekali menerima surat protes. “Sekolah dan taman hanya akan makan biaya. Hotel lah yang akan memberikan keuntungan kepada kita,” lanjut Walikota sambil membuang semua surat protes ke tong sampah. Ia tak menanggapi protes warga.

Akhirnya hotel berdiri dengan megahnya di antara rumah petak warga kota.

Tamat.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.